Archive

Posts Tagged ‘Oase’

Membunuh Kepedulian

Oleh Farid Ikhsan Asbani

Malam itu, perasaan saya benar-benar campur aduk tak menentu, ego bertarung dengan nurani, antara keinginan untuk tetap duduk dan keinginan untuk menolong. Malam itu, saya berada dalam perjalanan kereta kelas ekonomi menuju kota Yogyakarta. Alhamdulillah, saya mendapatkan tempat duduk. Di dekat saya ada dua gadis kakak beradik seumuran 8 dan 9 tahun, bersama entah ibu atau kakak mereka. Yang jelas, mereka tidak mendapatkan tempat duduk alias berdiri.

Kereta berangkat dari Stasiun Tanah Abang dan mereka akan turun di Stasiun Cirebon. Sempat tebersit keinginan untuk menawarkan tempat duduk saya kepada mereka berdua, tetapi akhirnya urung setelah gadis yang lebih kecil berpindah agak menjauh dari saya. Sementara anak yang lebih besar duduk berselonjor di jalan yang membelah kursi sisi kanan dan kiri. Saya pun mulai berusaha memejamkan mata agar esok hari tidak terlalu kelelahan.

Sampai suatu ketika sang adik mendekat pada kakaknya, saya melihat sesuatu yang membuat hati saya terenyuh. Tangan kiri sang adik ternyata dibebat perban dan memakai gendongan. Saya tidak tahu apakah itu karena tangannya retak, patah atau apa. Yang jelas, melihat tangannya digendong seperti itu sudah membuat saya merasa terenyuh. Berada di tengah jalan semacam itu bisa berbahaya bagi tangannya yang cedera. Sebab, meskipun jalan sudah dipenuhi oleh para penumpang yang duduk, tetapi para pedagang masih saja berlalu lalang setiap beberapa menit seka

li. Dan seringkali, dalam aktivitas berlalu lalang tersebut mereka menyenggol dan mengganggu para penumpang yang duduk di jalan di antara kursi sisi kanan dan kiri.

Sementara sang adik tertidur, sang kakak sesekali mengibaskan kertas koran yang ia pegang untuk mengusir gerah atau sekadar membenarkan letak kepala atau posisi tangan sang adik. Sebuah pemandangan yang sungguh mengharukan. Kemesraan kakak-adik yang membuat hati dan air mata saya semakin meleleh. Sang kakak akan berusaha menghalangi setiap kali ada pedagang yang lewat melangkahi mereka. Saya melihat kanan kiri dan berpikir mengapa tidak ada yang tergerak menawarkan kursinya. Apakah tidak ada yang kasihan melihat mereka berdua? Betapa inginnya saya menawarkan kursi saya, tetapi ternyata rasa ego saya lebih besar.

Setelah beberapa saat bertahan, saya pun memutuskan untuk menawarkan agar sang adik mau duduk di tempat saya. Namun, sepertinya adik itu sungkan menerima tawaran saya dan lebih memilih tidur dipangkuan sang kakak. Mungkin dia malu atau takut berada di dekat orang-orang yang tidak ia kenal.

Saya yakin bahwa tidak sedikit dari penumpang yang merasa iba melihat pemadangan itu, tetapi mengapa tidak satu pun yang menawarkan bantuan, sebuah pertanyaan masih mengganjal di benak saya. Saya juga sangat yakin bahwa tidak mungkin orang-orang di kereta itu berhati jahat, barangkali mereka hanya saling menunggu, atau semuanya berpikiran seperti saya, “Mengapa tidak ada yang menolong?”

Sebuah penelitian oleh Bibb Latane dan John Darley, yang dikemukakan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya Tipping Point, di mana mereka mengatur agar seorang mahasiswa di sebuah apartemen berpura-pura mengalami epilepsi, ditemukan bahwa apabila tetangga mahasiswa itu hanya satu orang dan orang itu tahu tidak ada orang lain di sekitar tempat itu, maka peluang orang tersebut untuk menolong adalah 85%. Namun jika orang itu tahu bahwa ada empat tetangga lain yang menurutnya mendengar gejala serangan epilepsi, maka peluang untuk menolong menjadi 31%. Dalam eksperimen lain, orang yang melihat asap mengepul dari bawah pintu mempunyai peluang 75% untuk melaporkkan kejadian itu ketika ia hanya sendirian, tetapi peluangnya berkurang menjadi 38% ketika saksi mata tahu bahwa ada saksi mata lain yang melihat bersamanya.

Penelitian di atas mungkin memang menampakkan kecenderungan manusia untuk saling menunggu, tetapi itu bukan berarti menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan. Karena kita tahu bahwa adanya kecenderungan tidak membolehkan kita meninggalkan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Sebab jika demikian, kecenderungan manusia untuk lalai akan mendominasi seluruh aspek hidup kita. Karenanya, sebagai seorang Muslim tidaklah layak kiranya bagi kita untuk saling menunggu untuk menolong saudaranya.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam Al-Iman Wal Hayah menceritakan sebuah kisah bahwa suatu ketika kaum muslimin sedang melawan kaum kafir dalam sebuah peperangan. Terbentang sebuah sungai di antara mereka. Panglima kaum muslimin memerintahkan pasukan untuk menyeberangi sungai. Namun tiba-tiba salah seorang berteriak, “Piringku, piringku!” Pasukan muslimin yang mendengarnya pun langsung menyelam dan mencari piring yang terjatuh itu. Banyak yang ikut menyelam mencari piring itu hingga akhirnya ditemukan.

Pasukan kafir yang berada di seberang sungai menyaksikan dengan terkagum-kagum. Dalam pikiran mereka, “Piring salah seorang dari mereka yang terjatuh saja mengundang reaksi sedemikian rupa. Bagaimana jika salah seorang dari mereka mati terbunuh?” Itulah yang tebersit di hati pasukan kaum kafir. Maka pasukan musuh pun menyerah sebelum berperang.

Kisah di atas menunjukkan jauhnya jarak antara apa yang seharusnya dilakukan dan kecenderungan yang biasa terjadi. Maka tidaklah layak bagi seorang Muslim untuk membunuh kepedulian terhadap saudaranya sesama Muslim, karena Rasul bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam” (HR  Muslim).

Malam itu, saya merasa sedih, sekaligus malu, karena baru di saat-saat terakhir saya tergerak untuk membangkitkan kepedulian yang sebelumnya hampir-hampir saya bunuh. Somoga Allah menguatkan hati dan amal kita agar lebih peduli terhadap sesama. Karena menjadi peduli adalah menjadi berarti. Padahal tiada hal yang lebih baik daripada memiliki hidup yang berarti.Khairunnas anfa’uhum linnas.

Wallahu a’lam bish-shawab

Artikel ini ditulis untuk fimadani.com. dan dimuat di http://www.fimadani.com/membunuh-kepedulian/

Advertisements
Categories: catatan sore, Oase Tags: ,

Karena Segelas Air Putih Takkan Berubah Rasa Menjadi Madu

February 27, 2011 2 comments

Hidup sejatinya berasa tawar. Ia akan menjadi manis kala kita memberinya gula, menjadi asin saat kita larutkan garam, menjadi pahit bila kita campurkan empedu, atau bahkan menjadi masam jika kita tambahkan asam.

Sejatinya hidup itu tawar. Menjadi berasa karena kita menyertakan perasaan untuk mencerna fenomenanya. Kita pun kemudian mengenal senang, sedih, bahagia, merana, dan sebagainya. Ya, kita merasakan itu semua semata-mata karena emosi dan persepsi yang kita libatkan dalam menyikapi suatu peristiwa.

Barangkali, engkau akan merasa biasa saja melihat sebuah pertandingan sepakbola tingkat dusun di sebuah daerah asing yang tiada satu pun pemainnya kau kenali. Tim mana pun yang menang, boleh jadi takkan membuatmu bersorak “Hore!” Mungkin kau hanya bertepuk tangan biasa.
Tapi mungkin akan berbeda jika tim itu adalah tim dari kampungmu, jika mereka menang, mungkin kadar kegembiraanmu akan lebih besar. Mungkin engkau akan melakukan tos dengan kawan, berteriak “Hore!” dan sebagainya. Sebaliknya, engkau mungkin akan bersedih jika tim itu kalah. Engkau bisa merasakan gembira atau sedih karena adanya keterikatan emosi dengan obyek yang menjadi fenomena tersebut.

Hidup pada dasarnya netral. Seperti netralnya segelas air putih. Tak berasa memang, tetapi menyegarkan. Tawar, tapi mampu menghilangkan dahaga yang menyerang. Tak dingin, tak jua panas, tapi menghadirkan kesejukan. Dalam regukan-regukan yang masuk ke dalam tenggorokan kita, ia melegakan. Ya, hidup sejatinya sudah membawa kebahagiaannya sendiri-sendiri. Tentu saja, jika proporsional.

Pertanyannya, jika hidup itu memang tawar, netral, ataupun bening, lantas mengapa tak sedikit dari kita yang merasakan bahwa hidup itu pahit? Dan tidak jarang pula, banyak yang merasakan manis?

Sesuai dengan sifat air, maka sejatinya ia akan terasa manis jika kita merasakannya dengan menambahkan gula, bisa juga terasa pahit jika kita menambahkan empedu. Begitulah sifat air, sebagaimana juga sifat hidup.

Begitu banyak kita dapati orang yang di mata kita terlihat kekurangan dan menderita. Namun mereka justru hidup dengan bahagia dan mensyukuri apa yang ada. Sementara tidak jarang pula orang yang hidup dengan harta melimpah tetapi hidupnya tidak nyaman, bahkan ia cenderung merasa kurang atas apa yang ia dapatkan. Ingin lagi dan lagi, namun harta tak mampu membuatnya bahagia. Jika sudah begini, sebenarnya apa yang bisa membuat kita bahagia?

Bahagia itu letaknya ada di hati dan pada persepsi menghadapi ujian. Meminjam permisalan yang dipakai Mbah Dipo dalam sebuah tulisannya, seorang miskin yang tiap hari tinggal digubug reot dan hidup dengan miskin akan merasa senang, jika ada orang baik yang menjanjikan bulan depan ia akan diberi pekerjaan dengan gaji 5 juta per bulan. Jauh sebelum ia menikmati gaji itu pun ia akan bahagia, gubug reot dan kehidupan miskinnya akan ia lewati dengan bayangan indah tentang janji yang akan diterimanya bulan depan.

Namun coba lihat hidup seorang yang kaya raya, yang istrinya cantik, mobilnya banyak, uangnya melimpah, dan rumahnya mewah yang mendapat surat “cinta” dari pengadilan tentang statusnya sebagai terdakwa. Malam-malamnya ia lewati dengan perasaan gelisah meski tidur di tilam indah dan empuk bersanding istri secantik bidadari. Tidak lain karena bulan depan kemungkinan ia akan menghuni hotel prodeo.

Begitulah kebahagiaan seseorang, jika terhadap janji seorang manusia saja bisa sedemikian senang, maka terhadap janji Allah yang pasti berupa surga, seharusnya kita bisa melewati hidup ini dengan manis, bahagia dan penuh kesyukuran serta berbuat yang terbaik untuk akhirat yang diidamkan: surga. Meskipun di dunia kita merasakan penderitaan karena istiqamah dalam kebenaran, tetapi dengan mengingat janji tersebut, kita akan tetap tersenyum melewati hari-demi hari, karena kita tahu, kelak akan berakhir dengan janji yang pasti. Bahwa ‘kepahitan’ itu hanya sebentar dan akan ditukar dengan kemanisan yang kekal. Sebagaimana tekad Bilal saat didera siksa di bawah terik matahari kota Mekah. Ia berucap tabah, “Ahad… Ahad…!”

Persepsi memang selalu bisa memengaruhi, mengubah sesuatu yang jelek menjadi indah, mengubah yang pahit jadi manis. Karena segelas air putih takkan berubah rasa menjadi madu, kecuali engkau menuangkan beberapa sendok madu ke dalamnya. Ia bahkan berasa pahit bila yang kau tuang adalah empedu. Dan madu itu, boleh jadi ada dalam bentuknya sebagai persepsi maupun amal-amal yang membahagiakan.

Maka sebagaimana segelas air itu, tuangilah hidupmu dengan madu, dengan amal-amal yang membahagiakan hidupmu. Jangan kau tuang racun yang merusak amal dan membuat hidup kelabu.

Wallahu a’lam

Categories: catatan sore, Oase Tags: ,

Muslim tapi Muallaf

May 20, 2010 4 comments

Some portion of the text may contain strong words and phrases. Do not read if you are easily got insulted.

muslim tapi muallaf
Sahabat, suatu ketika ada seorang yang mengaku sebagai pelukis. Ia mengklaim bahwa ia sudah menjadi pelukis selama berpuluh-puluh tahun. Anehnya ketika diminta untuk melukis ia tidak mampu, teknik mencampur warna dan beberapa teknik menggoreskan kuas di atas kanvas juga ia tidak bisa. Bahkan, ia juga tidak pernah menghasilkan karya meski hanya satu.

Sahabat, kira-kira terhadap orang semacam itu, apakah engkau percaya atas klaimnya yang menyatakan bahwa ia pelukis? Apakah engkau rela menyematkan gelar pelukis kepadanya, padahal ia sama sekali tidak memiliki kompetensi sebagai pelukis?

Saya kira, sebagai orang yang masih mempunyai akal sehat, engkau akan mengingkari klaimnya itu. Demikian pula diriku, Sahabat.

Kisah di atas hanyalah ilustrasi. Barangkali tidak pernah ada yang demikian di dunia ini, tetapi jika yang dimaksud adalah memiliki intisari yang sama, maka kita akan menemukan banyak hal yang kadang itu hanyalah klaim-klaim kosong tak bermakna. Sebuah pertanyaan sederhana misalnya, “Sudah berapa lama kita menjadi seorang Muslim?” Read more…

Categories: Oase Tags: ,

Pertanyaan yang Merisaukan (Mengerikan)

April 15, 2009 1 comment

Ada sebuah pertanyaan yang berbunyi Maa salakakum fii saqar? (Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar?). Kira-kira Anda ingin menjadi orang yang ditanya atau orang yang bertanya?
Dengan membaca judul di atas saja, mungkin kita sudah tidak ingin ditanya dengan pertanyaan demikian. Apalagi jika tahu bahwa saqar itu adalah nama neraka, tentu kita lebih tidak ingin lagi pertanyaan itu diajukan kepada kita. Sebaliknya, tentu kita berharap menjadi orang yang bertanya, karena ini adalah pertanyaan ahli surga terhadap para penghuni saqar (Q.s. al-Muddatstsir [74]: 38-56). Dari sini kita akan tahu sebab-sebab mengapa mereka masuk ke dalam saqar seperti yang difirmankan Allah dalam Q.s. al-Muddatstsir [74]: 42-47: Read more…

Categories: Oase Tags:

Apa Tema Hidupmu?

February 4, 2009 1 comment

Dulu, barangkali kita pernah diajari tentang ilmu karang-mengarang. Pada waktu SMP, atau bahkan SD kita sudah mengenal ilmu ini. Bu guru atau Pak guru memberikan dasar-dasarnya. Namun pada waktu SD, mungkin kita masih terbiasa mengarang dengan tema yang telah ditentukan, tema yang tidak dapat kita tolak, tidak dapat kita protes. Saya masih ingat, ada beberapa gambar yang berangkaian, saling berhubungan, dengan disertai perintah: “Buatlah karangan berdasarkan gambar dibawah ini!” Itu terjadi ketika saya masih berada di bangku SD, mungkin sekitar kelas tiga atau empat. Read more…

Categories: motivasi Tags:
mengambilmakna

Bertabur makna di sekitar kita, sangat banyak! Adakah yang tak ingin mengambilnya?

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

afifahthahirah87

Chicken Soup for My Soul

Musim Semi

berharap hangat itu sampai ke hatimu begitu juga cintaku

RanaWijayaSoe

I have My Own Ele-path

Sang Nusantara

Connecting People with Nature

Lewat kata, aku bicara

Tempat aku menyandarkan beberapa jenak kehidupan lewat kata

Menulis Itu Berbagi

Si Pandai itu besar sekalipun ia kecil, sedangkan si Bodoh itu kecil sekalipun ia besar

amathonthe

Sejauh Kaki Melangkah, Sebanyak Kata Terucap

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

Lailatul Qadr Virtual Home

Blognya Seorang Istri, Seorang Ibu, Seorang (Mantan) Guru, yang sangat menyukai kegiatan luar ruangan, menulis, dan membaca...

(new) Mbot's HQ

Ocehan gak guna seorang pegawai kantoran biasa.

Gerakan Sadar Arsip

Viva Archiva!

wahyugendut39

tetap berharap yang terbaik...

Pumichi's Blog

All about live in the light

Notasi

[n] (1) seperangkat atau sistem lambang (tanda) yg menggambarkan bilangan (tt aljabar), nada (tt musik), dan ujaran (tt fonetik); (2) proses pelambangan bilangan, nada, atau ujaran dng tanda (huruf); (3) catatan pendek yg perlu diketahui atau untuk mengingatkan sesuatu

PKJ 4.0

Tilawah, Tazkiyah, Ta'lim

Freak Dreamer

Reading (is my) Life!