Karena Segelas Air Putih Takkan Berubah Rasa Menjadi Madu

February 27, 2011 2 comments

Hidup sejatinya berasa tawar. Ia akan menjadi manis kala kita memberinya gula, menjadi asin saat kita larutkan garam, menjadi pahit bila kita campurkan empedu, atau bahkan menjadi masam jika kita tambahkan asam.

Sejatinya hidup itu tawar. Menjadi berasa karena kita menyertakan perasaan untuk mencerna fenomenanya. Kita pun kemudian mengenal senang, sedih, bahagia, merana, dan sebagainya. Ya, kita merasakan itu semua semata-mata karena emosi dan persepsi yang kita libatkan dalam menyikapi suatu peristiwa.

Barangkali, engkau akan merasa biasa saja melihat sebuah pertandingan sepakbola tingkat dusun di sebuah daerah asing yang tiada satu pun pemainnya kau kenali. Tim mana pun yang menang, boleh jadi takkan membuatmu bersorak “Hore!” Mungkin kau hanya bertepuk tangan biasa.
Tapi mungkin akan berbeda jika tim itu adalah tim dari kampungmu, jika mereka menang, mungkin kadar kegembiraanmu akan lebih besar. Mungkin engkau akan melakukan tos dengan kawan, berteriak “Hore!” dan sebagainya. Sebaliknya, engkau mungkin akan bersedih jika tim itu kalah. Engkau bisa merasakan gembira atau sedih karena adanya keterikatan emosi dengan obyek yang menjadi fenomena tersebut.

Hidup pada dasarnya netral. Seperti netralnya segelas air putih. Tak berasa memang, tetapi menyegarkan. Tawar, tapi mampu menghilangkan dahaga yang menyerang. Tak dingin, tak jua panas, tapi menghadirkan kesejukan. Dalam regukan-regukan yang masuk ke dalam tenggorokan kita, ia melegakan. Ya, hidup sejatinya sudah membawa kebahagiaannya sendiri-sendiri. Tentu saja, jika proporsional.

Pertanyannya, jika hidup itu memang tawar, netral, ataupun bening, lantas mengapa tak sedikit dari kita yang merasakan bahwa hidup itu pahit? Dan tidak jarang pula, banyak yang merasakan manis?

Sesuai dengan sifat air, maka sejatinya ia akan terasa manis jika kita merasakannya dengan menambahkan gula, bisa juga terasa pahit jika kita menambahkan empedu. Begitulah sifat air, sebagaimana juga sifat hidup.

Begitu banyak kita dapati orang yang di mata kita terlihat kekurangan dan menderita. Namun mereka justru hidup dengan bahagia dan mensyukuri apa yang ada. Sementara tidak jarang pula orang yang hidup dengan harta melimpah tetapi hidupnya tidak nyaman, bahkan ia cenderung merasa kurang atas apa yang ia dapatkan. Ingin lagi dan lagi, namun harta tak mampu membuatnya bahagia. Jika sudah begini, sebenarnya apa yang bisa membuat kita bahagia?

Bahagia itu letaknya ada di hati dan pada persepsi menghadapi ujian. Meminjam permisalan yang dipakai Mbah Dipo dalam sebuah tulisannya, seorang miskin yang tiap hari tinggal digubug reot dan hidup dengan miskin akan merasa senang, jika ada orang baik yang menjanjikan bulan depan ia akan diberi pekerjaan dengan gaji 5 juta per bulan. Jauh sebelum ia menikmati gaji itu pun ia akan bahagia, gubug reot dan kehidupan miskinnya akan ia lewati dengan bayangan indah tentang janji yang akan diterimanya bulan depan.

Namun coba lihat hidup seorang yang kaya raya, yang istrinya cantik, mobilnya banyak, uangnya melimpah, dan rumahnya mewah yang mendapat surat “cinta” dari pengadilan tentang statusnya sebagai terdakwa. Malam-malamnya ia lewati dengan perasaan gelisah meski tidur di tilam indah dan empuk bersanding istri secantik bidadari. Tidak lain karena bulan depan kemungkinan ia akan menghuni hotel prodeo.

Begitulah kebahagiaan seseorang, jika terhadap janji seorang manusia saja bisa sedemikian senang, maka terhadap janji Allah yang pasti berupa surga, seharusnya kita bisa melewati hidup ini dengan manis, bahagia dan penuh kesyukuran serta berbuat yang terbaik untuk akhirat yang diidamkan: surga. Meskipun di dunia kita merasakan penderitaan karena istiqamah dalam kebenaran, tetapi dengan mengingat janji tersebut, kita akan tetap tersenyum melewati hari-demi hari, karena kita tahu, kelak akan berakhir dengan janji yang pasti. Bahwa ‘kepahitan’ itu hanya sebentar dan akan ditukar dengan kemanisan yang kekal. Sebagaimana tekad Bilal saat didera siksa di bawah terik matahari kota Mekah. Ia berucap tabah, “Ahad… Ahad…!”

Persepsi memang selalu bisa memengaruhi, mengubah sesuatu yang jelek menjadi indah, mengubah yang pahit jadi manis. Karena segelas air putih takkan berubah rasa menjadi madu, kecuali engkau menuangkan beberapa sendok madu ke dalamnya. Ia bahkan berasa pahit bila yang kau tuang adalah empedu. Dan madu itu, boleh jadi ada dalam bentuknya sebagai persepsi maupun amal-amal yang membahagiakan.

Maka sebagaimana segelas air itu, tuangilah hidupmu dengan madu, dengan amal-amal yang membahagiakan hidupmu. Jangan kau tuang racun yang merusak amal dan membuat hidup kelabu.

Wallahu a’lam

Categories: catatan sore, Oase Tags: ,

Selalu Ada Orang Baik Yang Allah Kirimkan Pada Kita

February 27, 2011 Leave a comment

Akan selalu ada orang baik yang tulus mengulurkan tangan menolong sesama, di mana pun itu, itu yang saya yakini. Setidaknya pengalaman perjalanan saya ke Depok bersama tiga orang rekan beberapa waktu lalu membuktikan hal itu. Begitu banyak kejadian yang mengharuskan kami untuk bersyukur.

Kami adalah empat orang anak manusia yang demi sebuah harap mengikuti sebuah test di Fakultas Teknik UI. Kami berangkat menggunakan kereta api. Kebaikan itu bermula sejak kami belum berangkat. Ketika kami kebingungan tentang siapa yang harus membeli tiket kereta ke Jatinegara, ayah dari salah seorang dari kami mengajukan diri melakukannya. Kemudian ketika kami sampai di stasiun Jatinegara, kami bertemu seorang bapak yang berprofesi sebagai sopir di DPRD DKI Jakarta. Setelah ngobrol beberapa lama, beliau membelikan makanan kepada kami yang sedang kebingungan mencari rute. Beliau juga menunjukkan beberapa alternatif rute menuju Kampus UI.

Sedangkan di sudut lain di ibu kota, sepupu dari salah seorang kawan saya rela begadang semalaman hanya untuk menjawab sms-sms yang kami kirimkan, bertanya ini itu terkait tempat-tempat di mana kami harus turun dan naik apa, bayar berapa ke tempat tujuan kami. Bahkan pada saat pulang beliau juga yang membelikan kami tiket ke Jogja hingga mengantarkan kepulangan kami, belum ditambah traktiran makan di warung depan stasiun.

Tak hanya itu, ketika saya dan ketiga teman yang lain berpisah (ketiga kawan saya perempuan) untuk mencari tempat istirahat sementara di Jakarta, saya bertemu dengan seorang kawan lain yang senasib, lalu kami tinggal di masjid dekat kampus UI. Di dusun Kukusan. Entah bagaimana mulanya, kami lantas ditawarkan tinggal di rumah penduduk. Ketiga kawan saya bahkan tidak percaya, dan setengah bercanda mengatakan “Pasti kalian terlihat melas sehingga sang empunya rumah itu merasa kasihan!”

Kebaikan itu masih kami terima setelah sebelumnya sempat mengalami kebingungan menentukan pilihan naik KRL jurusan mana untuk sampai ke stasiun Jatinegara. Ketika kami akhirnya memutuskan untuk naik KRL menuju stasiun Manggarai, kami bertemu dengan seorang mahasiswa yang ingin menjemput kawannya di Jatinegara. Maka kami pun memintanya untuk memandu kami. Dengan kondisi KRL yang penuh sesak, ditambah ketidaktahuan kami tentang ciri-ciri stasiun stasiun di mana kami berhenti, kami merasa beruntung, sebab ada yang memandu kami.

Kebaikan yang kami terima bertubi-tubi ini membuat saya sangat bersyukur bahwa di mana pun akan selalu ada orang baik yang Allah kirimkan pada kita. Dan sebuah hikmah yang saya dapatkan, jika tidak ada seorang pun orang baik yang kau temui, maka jadilah orang baik itu sendiri, sehingga minimal akan ada satu orang baik yang engkau temukan. Karena sejatinya, apa yang kita terima adalah hasil dari apa yang kita berikan.

Maka berlaku sebuah hukum timbal balik, “Jika kau ingin memperoleh pertolongan dan keajaiban-keajaiban yang membahagiakanmu, maka tolonglah dan sebarkanlah kebahagiaan kepada orang-orang di sekelilingmu.”

Wallahu a’lam

Categories: catatan sore, Oase Tags:

Maraton Tiga Kambing

November 12, 2010 4 comments

Beberapa waktu yang lalu, kita dijejali dengan berbagai berita dan propaganda yang menampakkan Islam sebagai agama teror. Orang-orang yang menampakkan keislamannya dan bangga atas keislamannya di anggap ekstremis, hanya karena kesamaan penampilan dengan beberapa ‘teroris’ yang selama ini diopinikan. Penampakan mereka lalu digeneralisasi sebagai penampakan umum para teroris. Akibatnya, jika engkau mengenakan jilbab lebar atau berjenggot lebat siap-siap saja disebut teroris. Ngaji, yang merupakan aktivitas warisan para nabi, juga kena getahnya. Orang lalu beramai-ramai melarang anaknya untuk ngaji. Takut dicap sebagai teroris atau takut anaknya terlibat terorisme.

Bahkan seorang takmir sampai berkata begini, “Islam boleh saja, tapi janganlah kamu terlalu ekstrem,” ketika membaca sebuah bulletin yang mengajak umat islam memperjuangkan kekhalifahan.

Tak henti-hentinya Islam dihinakan, diopinikan jelek, dan digembar-gemborkan sebagai biang keladi karut marut negeri ini. Islam dijadikan sebagai kambing hitam. Inilah kambing pertama.

Read more…

Categories: catatan sore

Bangsa Indonesia Bangsa Poliglot

October 21, 2010 Leave a comment

Barangkali ada yang bertanya, “Apa itu poliglot?” Yang jelas poliglot tidak ada hubungannya dengan poligami atau poliandri. Poliglot adalah sebuah istilah kebahasaan. Untuk memperjelas akan saya hadirkan definisinya di sini. Menurut Kamus Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa, poliglot diartikan sebagai “dapat mengetahui, menggunakan, dan menulis dalam banyak bahasa; atau orang yg pandai dalam berbagai bahasa.” Maknanya bahwa seorang poliglot memiliki kemampuan untuk memahami berbagai bahasa.

Lantas apa hubungannya dengan bangsa Indonesia? Tentu saja hubungannya baik-baik saja sangat erat. Bangsa Indonesia pada dasarnya adalah bangsa yang memiliki tingkat keterbukaan bahasa (welcomitas)[1] yang begitu besar. Hal ini dapat dipahami mengingat sejarah bahasa yang digunakan oleh bangsa ini memang tergolong unik. Kawasan nusantara sejak dahulu merupakan pusat pertemuan berbagai bangsa di dunia. Mereka datang untuk menjual dagangan sekaligus mencari berbagai komoditi yang mereka butuhkan di negeri asal mereka. Persinggungan berbagai bangsa dengan beragam bahasa ini tentu saja membutuhkan sebuah bahasa yang mampu menampung kebutuhan komunikasi antar bangsa tersebut. Sejak itu hadirlah sebuah lingua franca yaitu bahasa melayu yang merupakan embrio dari bahasa Indonesia.

Lingua franca ini kemudian berkembang pesat dengan majunya kerajaan Sriwijaya dan kerajaan-kerajaan lain di nusantara. Bahkan kemudian bahasa ini banyak menyerap kata-kata dari bangsa lain: Sansekerta, Arab, Persia, India, China, dan lain-lain. Karena itu tidak heran jika saat ini banyak terdapat kata-kata yang sebenarnya bukan asli dari bahasa Indonesia. Artinya bakat poliglot (mengucapkan berbagai bahasa) sudah diwariskan oleh para pendahulu kita.

Masyarakat kemudian menjadi terbiasa memakai istilah yang berasal dari bahasa asing asal ‘tampak’ seperti bahasa Indonesia. Akhirnya kini marak penggunaan kata-kata yang aslinya tidak ada. Seperti welcomitas yang saya sebutkan di atas. Asal cocok dan dapat ditangkap maknanya, maka tiada masalah jika harus menggunakan kata-kata itu. Sebagai contoh, kita lebih mengenal kata efektif dan efisien daripada sangkil dan mangkus. Atau lebih sreg menggunakan kata ‘software’ daripada memakai kata ‘perangkat lunak,’ lebih enak memakai kata ‘welcome’ daripada ‘selamat datang’ di keset.

Bahkan Alif Danya Munsyi merespon fenomena welcomitas bahasa Indonesia ini dengan membuat buku berjudul: 9 Dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing (KPG, 2003), sebuah buku yang menguak fakta-fakta menggelitik tentang banyaknya kata yang selama ini dianggap ‘asli’ Indonesia, tetapi ternyata setelah ditelusuri silsilahnya, kata itu merupakan kata impor dari negeri asing.

Sebagai contoh, kata ‘meleset’ ternyata berasal dari bahasa Perancis ‘malaise’ yang artinya sulit, ramai digunakan dengan pelafalan ‘meleset’ setelah keadaan ekonomi dunia yang sulit (malaise) akibat Perang Dunia I. Contoh lain, kata ‘cinta’ yang sekilas merupakan asli Indonesia, buktinya ada pantun:

Dari mana datangnya lintah

Dari sawah turun ke kali

Dari mana datangnya cinta

Dari mata turun ke hati

Tapi ternyata, pantun ini tidak sejati alias tidak benar, sedangkan yang benar menurut Van Ophuysen dalam Pantun Melayu, Balai Pustaka, no.424 adalah:

Dari mana punai melayang

Dari kayu turun ke padi

Dari mana kasih sayang

Dari mata turun ke hati.

 

Contoh di atas hanya sebagian kecil kata yang bukan ‘asli’ Indonesia. Masih banyak kata lain yang diimpor dari bahasa Sansekerta, Arab, Belanda, Inggris, Italia, dan lain-lain.

Lantas apa sebenarnya yang menjadi poin bahasan “Bangsa Indonesia Bangsa Poliglot” ini? Yaitu bahwa sebenarnya sebagai bangsa yang poliglot dan diwarisi kepoliglotan, dalam era globalisasi yang menuntut kita untuk berkemampuan poliglot, bangsa ini sangat mungkin untuk eksis, paling tidak dari segi bahasa. Karena bagaimanapun bahasa merupakan kunci dari banyak hal: ilmu, jaringan, kekuasaan, dll.

Namun demikian, potensi poliglot saja tidak cukup, harus ada kemauan keras untuk maju, pikiran terbuka, dan iman yang membaja. Dan yakinlah Indonesia akan jaya. Bangga menjadi Muslim Indonesia.

 

[1] Welcomitas adalah istilah karangan saya sendiri, gothak gathuk mathuk.

Categories: bahasa Tags:

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1431 H/ 2010

July 21, 2010 Leave a comment

Alhamdulillah, Ramadhan tinggal menghitung hari. Insya Allah ia segera menemui kita. Mari songsong dengan persiapan prima. Sebagai bekal, berikut saya lampirkan jadwal imsakiyah ramadhan 1431, silakan di unduh.

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1431 untuk Kota YOGYAKARTA

Nah, bagi kota-kota lain di indonesia, silakan mengunduh jadwal ALL IN ONE yang dihisab oleh Ibnu Zahid Abdo el-Moeid, berikut ini:

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1431 ALL IN ONE

Jadwal ini berformat excel yang bisa diganti-ganti kota serta tahunnya. Caranya download file Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1431 ALL IN ONE, ekstrak trus buka file-nya, kemudian ganti tahun hijriyahnya dan Markaz/ tempatnya (pojok kiri atas). Misalkan kota Gresik diganti dengan kota Jepara, dll.
Kemudian enter.. dan tarraaa…
Jadwal akan berubah sesuai dengan tahun dan tempat yang diinginkan.
Semoga bermanfaat.

Categories: info

Teringat, Bahwa Hidup Bisa Tamat!

June 28, 2010 Leave a comment

Warning: some portion of the text may contain strong words, do not read if you are easily insulted!
Tamat
Mungkin banyak yang ada di pikiran, menuntut untuk dilampiaskan, menuntut untuk dieksekusi dan direalisasi. Segala hasrat itu muncul di otak, sebagaimana laju roda mobil yang melucur seru, berkejaran, semakin cepat dan semakin menggila, seolah tiada ingin berhenti, tamat. Kadang, jika jiwa dan jasad tidak kuat, yang akan keluar adalah gerutu. Istilahnya, Kabotan empyak kurang cagak, terlalu banyak keinginan, tapi sumber daya tidak mencukupi. Akhirnya stres..

Itu akan terjadi jika hidup hanya untuk mati. Hidup sekali, habis itu mati dan takkan berarti. Sebuah kerugian di atas kerugian. Kerugian yang berada pada puncak kerugian.

Akan berbeda, jika orientasi hidup itu adalah untuk hidup. Bukan untuk hidup di dunia, tetapi hidup di dunia untuk hidup di akhirat. Seorang kawan penah berpesan, “Jadilah engkau di dunia ini seperti penyeberang jalan, jangan terlalu sibuk mencari dan mengambil uang temuan di tengah jalan hingga akhirnya tertabrak kendaraan yang lalu lalang, tetapi bersegeralah berbekal, karena kehidupan selanjutnya akan segera menjelang, dan itu sifatnya kekal.”

Ya, di sini, mengingat kehidupan yang lebih kekal adalah kuncinya. Betapa kematian itu, kadang datang dengan bentuknya yang paling sederhana. Sesaat seseorang masih kelihatan sehat, bahkan terlihat sangat sehat, namun esok hari ia dikabarkan telah meninggal karena serangan jantung, atau ketika pulang tertabrak hingga meninggal setelah pulang dari sebuah pertemuan.

Celakanya, untuk menempuh jalan istiqamah itu ternyata sangat susah. Menggebu di awal, mundur teratur kemudian. Bahkan itu yang terkait dengan amalan ringan. Rabalah diri, adakah sudah mengistiqamahkan doa akan makan, doa akan tidur dan bangun tidur, dan doa-doa memulai aktivitas lainnya? Itulah refleksi kedekatan kita pada-Nya. Karena itu, tidak usah muluk-muluk, istiqamahlah, meski sedikit, itu lebih disukai. Tetapi berkualitas dan banyak serta istiqamah itulah seutama-utamanya kebaikan.

Ada kalanya, kehidupan dunia ini begitu menyilaukan, hingga melupakan diri dari kehidupan akhirat yang abadi. Kesuksesan dunia dikejar dan dicari, namun akhirat lalai dan tergadai. Hidup terasa sempit, seolah waktu senantiasa kurang untuk menjalankan aktivitasnya, kesibukan selalu mengejar dan membayangi, seolah ia mempunyai urusan yang sangat banyak. Jika sudah demikian, maka khawatirlah. Jangan jangan inilah apa yang digambarkan rasulullah dalam sabdanya: “Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai obsesinya, maka Allah mengacaukan semua urusannya, menjadikannya miskin, dan dunia datang kepadanya sebatas yang ditakdirkan untuknya” (H.r. Ibnu Majah).

Atau jika ternyata dalam kondisi keislaman yang payah, tetapi justru kesuksesan dunia yang ditemui, takutlah, jangan-jangan itu hanyalah istidraj, azab yang dipercepat.

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (Q.s. Hûd [11]:15-16)

Naudzubillah…

Refleksi, itulah yang kini harus dijalani, untuk kemudian bisa mengistiqamahkan perbaikan diri.

Masih ingatkah nasihat seorang kawan bahwa kepayahan dunia itu nilainya tidak ada apa-apanya dengan kenikmatan diakhirat yang kekal, dan kenikmatan dunia yang sementara juga sangat kecil jika dibandingkan dengan siksa di neraka-Nya yang mengerikan sekaligus kekal.

“Mencoba istiqamah,” katamu waktu itu, “ibarat seorang miskin papa yang tiap hari hidup bersahaja dan apa adanya. Tidur beralas tikar kasar, dan hidup di rumah kardus. Suatu saat, ada seorang kaya raya yang memintanya menjadi pegawainya, tapi masih satu bulan lagi. Ia menjanjikan akan memberi gaji 50 juta per bulan.

Mendengar hal ini, sang miskin begitu bahagia, satu bulan lagi ia akan begitu kaya, dengan gaji 50 juta perbulan. Maka, meski sampai satu bulan ke depan ia masih harus tinggal di rumah kardus beralas tikar, itu tidak mengapa, karena harapannya akan kehidupan satu bulan lagi begitu nyata dan begitu besar. Maka selama satu bulan itu, tikar kasar akan terasa empuk dan nyaman, rumah kardus terasa istana lapang, karena harapannya begitu penuh. Ya, begitulah istiqamah menjalankan perintah demi mengharap balasnya,” katamu menutup cerita.

***

Dalam tapak keduapuluh lima, aku menanti, sekali lagi, sebuah jawab yang harus dicari, ke mana ia kan pergi, demi dunia atau akhirat yang abadi…

Sumber gambar: http://www.insidesocal.com/tomhoffarth/end.jpg

Categories: Oase Tags:

Muslim tapi Muallaf

May 20, 2010 4 comments

Some portion of the text may contain strong words and phrases. Do not read if you are easily got insulted.

muslim tapi muallaf
Sahabat, suatu ketika ada seorang yang mengaku sebagai pelukis. Ia mengklaim bahwa ia sudah menjadi pelukis selama berpuluh-puluh tahun. Anehnya ketika diminta untuk melukis ia tidak mampu, teknik mencampur warna dan beberapa teknik menggoreskan kuas di atas kanvas juga ia tidak bisa. Bahkan, ia juga tidak pernah menghasilkan karya meski hanya satu.

Sahabat, kira-kira terhadap orang semacam itu, apakah engkau percaya atas klaimnya yang menyatakan bahwa ia pelukis? Apakah engkau rela menyematkan gelar pelukis kepadanya, padahal ia sama sekali tidak memiliki kompetensi sebagai pelukis?

Saya kira, sebagai orang yang masih mempunyai akal sehat, engkau akan mengingkari klaimnya itu. Demikian pula diriku, Sahabat.

Kisah di atas hanyalah ilustrasi. Barangkali tidak pernah ada yang demikian di dunia ini, tetapi jika yang dimaksud adalah memiliki intisari yang sama, maka kita akan menemukan banyak hal yang kadang itu hanyalah klaim-klaim kosong tak bermakna. Sebuah pertanyaan sederhana misalnya, “Sudah berapa lama kita menjadi seorang Muslim?” Read more…

Categories: Oase Tags: ,
mengambilmakna

Bertabur makna di sekitar kita, sangat banyak! Adakah yang tak ingin mengambilnya?

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

afifahthahirah87

Chicken Soup for My Soul

Musim Semi

berharap hangat itu sampai ke hatimu begitu juga cintaku

RanaWijayaSoe

I have My Own Ele-path

Sang Nusantara

Connecting People with Nature

Lewat kata, aku bicara

Tempat aku menyandarkan beberapa jenak kehidupan lewat kata

Menulis Itu Berbagi

Si Pandai itu besar sekalipun ia kecil, sedangkan si Bodoh itu kecil sekalipun ia besar

amathonthe

Sejauh Kaki Melangkah, Sebanyak Kata Terucap

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

Lailatul Qadr Virtual Home

Blognya Seorang Istri, Seorang Ibu, Seorang (Mantan) Guru, yang sangat menyukai kegiatan luar ruangan, menulis, dan membaca...

(new) Mbot's HQ

Ocehan gak guna seorang pegawai kantoran biasa.

Gerakan Sadar Arsip

Viva Archiva!

wahyugendut39

tetap berharap yang terbaik...

Pumichi's Blog

All about live in the light

Notasi

[n] (1) seperangkat atau sistem lambang (tanda) yg menggambarkan bilangan (tt aljabar), nada (tt musik), dan ujaran (tt fonetik); (2) proses pelambangan bilangan, nada, atau ujaran dng tanda (huruf); (3) catatan pendek yg perlu diketahui atau untuk mengingatkan sesuatu

PKJ 4.0

Tilawah, Tazkiyah, Ta'lim

Freak Dreamer

Reading (is my) Life!