Archive

Archive for the ‘Oase’ Category

Membunuh Kepedulian

Oleh Farid Ikhsan Asbani

Malam itu, perasaan saya benar-benar campur aduk tak menentu, ego bertarung dengan nurani, antara keinginan untuk tetap duduk dan keinginan untuk menolong. Malam itu, saya berada dalam perjalanan kereta kelas ekonomi menuju kota Yogyakarta. Alhamdulillah, saya mendapatkan tempat duduk. Di dekat saya ada dua gadis kakak beradik seumuran 8 dan 9 tahun, bersama entah ibu atau kakak mereka. Yang jelas, mereka tidak mendapatkan tempat duduk alias berdiri.

Kereta berangkat dari Stasiun Tanah Abang dan mereka akan turun di Stasiun Cirebon. Sempat tebersit keinginan untuk menawarkan tempat duduk saya kepada mereka berdua, tetapi akhirnya urung setelah gadis yang lebih kecil berpindah agak menjauh dari saya. Sementara anak yang lebih besar duduk berselonjor di jalan yang membelah kursi sisi kanan dan kiri. Saya pun mulai berusaha memejamkan mata agar esok hari tidak terlalu kelelahan.

Sampai suatu ketika sang adik mendekat pada kakaknya, saya melihat sesuatu yang membuat hati saya terenyuh. Tangan kiri sang adik ternyata dibebat perban dan memakai gendongan. Saya tidak tahu apakah itu karena tangannya retak, patah atau apa. Yang jelas, melihat tangannya digendong seperti itu sudah membuat saya merasa terenyuh. Berada di tengah jalan semacam itu bisa berbahaya bagi tangannya yang cedera. Sebab, meskipun jalan sudah dipenuhi oleh para penumpang yang duduk, tetapi para pedagang masih saja berlalu lalang setiap beberapa menit seka

li. Dan seringkali, dalam aktivitas berlalu lalang tersebut mereka menyenggol dan mengganggu para penumpang yang duduk di jalan di antara kursi sisi kanan dan kiri.

Sementara sang adik tertidur, sang kakak sesekali mengibaskan kertas koran yang ia pegang untuk mengusir gerah atau sekadar membenarkan letak kepala atau posisi tangan sang adik. Sebuah pemandangan yang sungguh mengharukan. Kemesraan kakak-adik yang membuat hati dan air mata saya semakin meleleh. Sang kakak akan berusaha menghalangi setiap kali ada pedagang yang lewat melangkahi mereka. Saya melihat kanan kiri dan berpikir mengapa tidak ada yang tergerak menawarkan kursinya. Apakah tidak ada yang kasihan melihat mereka berdua? Betapa inginnya saya menawarkan kursi saya, tetapi ternyata rasa ego saya lebih besar.

Setelah beberapa saat bertahan, saya pun memutuskan untuk menawarkan agar sang adik mau duduk di tempat saya. Namun, sepertinya adik itu sungkan menerima tawaran saya dan lebih memilih tidur dipangkuan sang kakak. Mungkin dia malu atau takut berada di dekat orang-orang yang tidak ia kenal.

Saya yakin bahwa tidak sedikit dari penumpang yang merasa iba melihat pemadangan itu, tetapi mengapa tidak satu pun yang menawarkan bantuan, sebuah pertanyaan masih mengganjal di benak saya. Saya juga sangat yakin bahwa tidak mungkin orang-orang di kereta itu berhati jahat, barangkali mereka hanya saling menunggu, atau semuanya berpikiran seperti saya, “Mengapa tidak ada yang menolong?”

Sebuah penelitian oleh Bibb Latane dan John Darley, yang dikemukakan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya Tipping Point, di mana mereka mengatur agar seorang mahasiswa di sebuah apartemen berpura-pura mengalami epilepsi, ditemukan bahwa apabila tetangga mahasiswa itu hanya satu orang dan orang itu tahu tidak ada orang lain di sekitar tempat itu, maka peluang orang tersebut untuk menolong adalah 85%. Namun jika orang itu tahu bahwa ada empat tetangga lain yang menurutnya mendengar gejala serangan epilepsi, maka peluang untuk menolong menjadi 31%. Dalam eksperimen lain, orang yang melihat asap mengepul dari bawah pintu mempunyai peluang 75% untuk melaporkkan kejadian itu ketika ia hanya sendirian, tetapi peluangnya berkurang menjadi 38% ketika saksi mata tahu bahwa ada saksi mata lain yang melihat bersamanya.

Penelitian di atas mungkin memang menampakkan kecenderungan manusia untuk saling menunggu, tetapi itu bukan berarti menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan. Karena kita tahu bahwa adanya kecenderungan tidak membolehkan kita meninggalkan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Sebab jika demikian, kecenderungan manusia untuk lalai akan mendominasi seluruh aspek hidup kita. Karenanya, sebagai seorang Muslim tidaklah layak kiranya bagi kita untuk saling menunggu untuk menolong saudaranya.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam Al-Iman Wal Hayah menceritakan sebuah kisah bahwa suatu ketika kaum muslimin sedang melawan kaum kafir dalam sebuah peperangan. Terbentang sebuah sungai di antara mereka. Panglima kaum muslimin memerintahkan pasukan untuk menyeberangi sungai. Namun tiba-tiba salah seorang berteriak, “Piringku, piringku!” Pasukan muslimin yang mendengarnya pun langsung menyelam dan mencari piring yang terjatuh itu. Banyak yang ikut menyelam mencari piring itu hingga akhirnya ditemukan.

Pasukan kafir yang berada di seberang sungai menyaksikan dengan terkagum-kagum. Dalam pikiran mereka, “Piring salah seorang dari mereka yang terjatuh saja mengundang reaksi sedemikian rupa. Bagaimana jika salah seorang dari mereka mati terbunuh?” Itulah yang tebersit di hati pasukan kaum kafir. Maka pasukan musuh pun menyerah sebelum berperang.

Kisah di atas menunjukkan jauhnya jarak antara apa yang seharusnya dilakukan dan kecenderungan yang biasa terjadi. Maka tidaklah layak bagi seorang Muslim untuk membunuh kepedulian terhadap saudaranya sesama Muslim, karena Rasul bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam” (HR  Muslim).

Malam itu, saya merasa sedih, sekaligus malu, karena baru di saat-saat terakhir saya tergerak untuk membangkitkan kepedulian yang sebelumnya hampir-hampir saya bunuh. Somoga Allah menguatkan hati dan amal kita agar lebih peduli terhadap sesama. Karena menjadi peduli adalah menjadi berarti. Padahal tiada hal yang lebih baik daripada memiliki hidup yang berarti.Khairunnas anfa’uhum linnas.

Wallahu a’lam bish-shawab

Artikel ini ditulis untuk fimadani.com. dan dimuat di http://www.fimadani.com/membunuh-kepedulian/

Categories: catatan sore, Oase Tags: ,

Jangan Biarkan Imanmu Merapuh

May 11, 2011 2 comments

Oleh Farid Ikhsan Asbani

Saudaraku, suatu ketika dalam episode hidup ini, mungkin kita sampai pada momen yang membuat kita begitu terpuruk, sangat susah untuk bangkit. Sebuah kondisi di mana masalah mendera bertubi-tubi, tanpa jeda, tanpa ampun. Tak terlihat celah sedikitpun untuk membebaskan diri dari permasalahan-permasalahan itu.

Suatu ketika, mungkin, kita pernah mengalaminya. Dan pada saat itu, masalah-masalah yang mendera begitu berkuasa menghancurkan idealisme kita, menghancurkan harapan kita satu-satunya: asa. Kita sempurna terkena sindrom patah arang. Sebuah sindrom yang amat berbahaya bagi makhluk hidup bernama manusia.

Suatu ketika, mungkin ini nyata, banyak di antara kita mengalaminya. Kita sudah lelah, tak kuat lagi bertahan meski sejenak. Seolah kita tak pernah belajar untuk optimis, bahkan lupa sama sekali atau mulai menganggap bahwa optimisme sekadar hal basi yang sama sekali tidak ada gunanya. Kita hidup tapi tanpa asa, beraktivitas tapi tanpa ruh, menjadi semacam robot yang melakukan semuanya secara mekanik tanpa makna.

Namun sadarkah kita bahwa rapuh sejatinya tidaklah datang secara tiba-tiba. Ibarat sebuah bangunan, ia takkan ambruk begitu saja. Tetapi rapuh adalah proses yang terjadi secara halus dan terus menerus. Ketika beban yang dipikul oleh bangunan itu sudah tidak mampu lagi dipertahankan, maka bangunan itu akan roboh. Boleh jadi, bagi yang tidak tahu, bangunan itu terlihat roboh secara tiba-tiba, tetapi sejatinya, bangunan itu sudah mulai roboh sejak awal pengeroposan dimulai. Ketiadaan perawatan dan perbaikanlah yang membuatnya roboh.

Begitu pula, seseorang tidak mungkin tiba-tiba mengalami stres, tetapi hal itu terjadi secara pelan-pelan dan kian bertambah seiring bertambah lemahnya pondasi pertahanannya. Ketika permasalahan semakin menderanya bertubi-tubi, sementara pondasinya kian rapuh, maka stres tinggal menunggu waktu. Rapuh, sejatinya terjadi secara perlahan, sedikit demi sedikit. Yang diserang adalah pondasi utama, pondasi dari segala pondasi kita hidup di dunia ini. Pondasi yang mendasari segala tindakan kita. Pondasi yang dengannya kita memandang dunia, menghadapi kencangnya angin hidup dan guyuran badai cobaan. Ya, pondasi itu adalah iman.

Ketika iman mulai keropos, jika ia tidak segera mendapat perawatan atau perbaikan, maka jatuhnya pondasi hidup seseorang tinggalah menunggu waktu. Ia akan lebih rentan tertekan dan terkena depresi ketika menghadapi persoalan hidup. Ia boleh terlihat kaya raya, rupawan, tersohor, tapi tanpa iman ia rapuh. Serapuh sarang laba-laba yang putus sekali hempas. Ibarat pohon, ia adalah pohon yang tak mampu bertahan meski oleh tiupan angin yang tak terlalu kencang.

Maka iman, mau tidak mau, harus dirawat, dijaga dan dijauhkan dari berbagai hal yang merusaknya. Jagalah iman, dengan menambah pengetahuan kita tentang-Nya. Jagalah iman dengan senantiasa memikirkan ciptaan dan ayat-ayat-Nya yang dihamparkan pada kita. Jagalah iman dengan memperbanyak amal kepada-Nya dengan cara-cara yang dituntunkan-Nya. Jagalah iman, dengan berkumpul dengan orang-orang yang dicintai-Nya. Jagalah iman dengan berbagai cara yang sering bisa bisa kita lakukan tetapi kita abaikan.

Karena sejatinya, masalah adalah pewarna kehidupan, membuat hidup lebih dinamis, lebih menarik, tentunya dengan pengelolaan yang benar. Masalah adalah wahana bagi Sang Khalik untuk menaikkan derajat hamba-Nya yang bertakwa. Lihatlah pohon alpukat, sesekali waktu sebelum musim buah, dedaunnya habis dimakan ulat. Boleh jadi, habisnya daun itu adalah masalah tersendiri bagi sang pohon. Proses fotosintesis dan produksi zat-zat makanannya boleh jadi terganggu, tetapi ia tidak mati. Namun, perhatikanlah beberapa waktu setelahnya. Pohon alpukat akan kembali menumbuhkan daunnya, dan bahkan mengeluarkan buahnya. Ulat-ulat itu hanya berfungsi memberikan shock terapi berupa stres ringan, yang akibatnya justru positif, yaitu memicu peningkatan produksi buah.

Maka begitulah bagi orang yang beriman. Masalah adalah pemicu bagi dirinya untuk semakin produktif dan meningkatkan kapasitas. Karena ia yakin sepenuhnya pada janji Allah bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Q.s. al-Baqarah [2]: 286).

Maka jangan lupa untuk senantiasa berdoa:

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir” (Q.s. al-Baqarah [2]: 286).

Wallahu a’lam

Artikel ini telah dimuat di www.fimadani.com

Categories: Oase

Karena Segelas Air Putih Takkan Berubah Rasa Menjadi Madu

February 27, 2011 2 comments

Hidup sejatinya berasa tawar. Ia akan menjadi manis kala kita memberinya gula, menjadi asin saat kita larutkan garam, menjadi pahit bila kita campurkan empedu, atau bahkan menjadi masam jika kita tambahkan asam.

Sejatinya hidup itu tawar. Menjadi berasa karena kita menyertakan perasaan untuk mencerna fenomenanya. Kita pun kemudian mengenal senang, sedih, bahagia, merana, dan sebagainya. Ya, kita merasakan itu semua semata-mata karena emosi dan persepsi yang kita libatkan dalam menyikapi suatu peristiwa.

Barangkali, engkau akan merasa biasa saja melihat sebuah pertandingan sepakbola tingkat dusun di sebuah daerah asing yang tiada satu pun pemainnya kau kenali. Tim mana pun yang menang, boleh jadi takkan membuatmu bersorak “Hore!” Mungkin kau hanya bertepuk tangan biasa.
Tapi mungkin akan berbeda jika tim itu adalah tim dari kampungmu, jika mereka menang, mungkin kadar kegembiraanmu akan lebih besar. Mungkin engkau akan melakukan tos dengan kawan, berteriak “Hore!” dan sebagainya. Sebaliknya, engkau mungkin akan bersedih jika tim itu kalah. Engkau bisa merasakan gembira atau sedih karena adanya keterikatan emosi dengan obyek yang menjadi fenomena tersebut.

Hidup pada dasarnya netral. Seperti netralnya segelas air putih. Tak berasa memang, tetapi menyegarkan. Tawar, tapi mampu menghilangkan dahaga yang menyerang. Tak dingin, tak jua panas, tapi menghadirkan kesejukan. Dalam regukan-regukan yang masuk ke dalam tenggorokan kita, ia melegakan. Ya, hidup sejatinya sudah membawa kebahagiaannya sendiri-sendiri. Tentu saja, jika proporsional.

Pertanyannya, jika hidup itu memang tawar, netral, ataupun bening, lantas mengapa tak sedikit dari kita yang merasakan bahwa hidup itu pahit? Dan tidak jarang pula, banyak yang merasakan manis?

Sesuai dengan sifat air, maka sejatinya ia akan terasa manis jika kita merasakannya dengan menambahkan gula, bisa juga terasa pahit jika kita menambahkan empedu. Begitulah sifat air, sebagaimana juga sifat hidup.

Begitu banyak kita dapati orang yang di mata kita terlihat kekurangan dan menderita. Namun mereka justru hidup dengan bahagia dan mensyukuri apa yang ada. Sementara tidak jarang pula orang yang hidup dengan harta melimpah tetapi hidupnya tidak nyaman, bahkan ia cenderung merasa kurang atas apa yang ia dapatkan. Ingin lagi dan lagi, namun harta tak mampu membuatnya bahagia. Jika sudah begini, sebenarnya apa yang bisa membuat kita bahagia?

Bahagia itu letaknya ada di hati dan pada persepsi menghadapi ujian. Meminjam permisalan yang dipakai Mbah Dipo dalam sebuah tulisannya, seorang miskin yang tiap hari tinggal digubug reot dan hidup dengan miskin akan merasa senang, jika ada orang baik yang menjanjikan bulan depan ia akan diberi pekerjaan dengan gaji 5 juta per bulan. Jauh sebelum ia menikmati gaji itu pun ia akan bahagia, gubug reot dan kehidupan miskinnya akan ia lewati dengan bayangan indah tentang janji yang akan diterimanya bulan depan.

Namun coba lihat hidup seorang yang kaya raya, yang istrinya cantik, mobilnya banyak, uangnya melimpah, dan rumahnya mewah yang mendapat surat “cinta” dari pengadilan tentang statusnya sebagai terdakwa. Malam-malamnya ia lewati dengan perasaan gelisah meski tidur di tilam indah dan empuk bersanding istri secantik bidadari. Tidak lain karena bulan depan kemungkinan ia akan menghuni hotel prodeo.

Begitulah kebahagiaan seseorang, jika terhadap janji seorang manusia saja bisa sedemikian senang, maka terhadap janji Allah yang pasti berupa surga, seharusnya kita bisa melewati hidup ini dengan manis, bahagia dan penuh kesyukuran serta berbuat yang terbaik untuk akhirat yang diidamkan: surga. Meskipun di dunia kita merasakan penderitaan karena istiqamah dalam kebenaran, tetapi dengan mengingat janji tersebut, kita akan tetap tersenyum melewati hari-demi hari, karena kita tahu, kelak akan berakhir dengan janji yang pasti. Bahwa ‘kepahitan’ itu hanya sebentar dan akan ditukar dengan kemanisan yang kekal. Sebagaimana tekad Bilal saat didera siksa di bawah terik matahari kota Mekah. Ia berucap tabah, “Ahad… Ahad…!”

Persepsi memang selalu bisa memengaruhi, mengubah sesuatu yang jelek menjadi indah, mengubah yang pahit jadi manis. Karena segelas air putih takkan berubah rasa menjadi madu, kecuali engkau menuangkan beberapa sendok madu ke dalamnya. Ia bahkan berasa pahit bila yang kau tuang adalah empedu. Dan madu itu, boleh jadi ada dalam bentuknya sebagai persepsi maupun amal-amal yang membahagiakan.

Maka sebagaimana segelas air itu, tuangilah hidupmu dengan madu, dengan amal-amal yang membahagiakan hidupmu. Jangan kau tuang racun yang merusak amal dan membuat hidup kelabu.

Wallahu a’lam

Categories: catatan sore, Oase Tags: ,

Selalu Ada Orang Baik Yang Allah Kirimkan Pada Kita

February 27, 2011 Leave a comment

Akan selalu ada orang baik yang tulus mengulurkan tangan menolong sesama, di mana pun itu, itu yang saya yakini. Setidaknya pengalaman perjalanan saya ke Depok bersama tiga orang rekan beberapa waktu lalu membuktikan hal itu. Begitu banyak kejadian yang mengharuskan kami untuk bersyukur.

Kami adalah empat orang anak manusia yang demi sebuah harap mengikuti sebuah test di Fakultas Teknik UI. Kami berangkat menggunakan kereta api. Kebaikan itu bermula sejak kami belum berangkat. Ketika kami kebingungan tentang siapa yang harus membeli tiket kereta ke Jatinegara, ayah dari salah seorang dari kami mengajukan diri melakukannya. Kemudian ketika kami sampai di stasiun Jatinegara, kami bertemu seorang bapak yang berprofesi sebagai sopir di DPRD DKI Jakarta. Setelah ngobrol beberapa lama, beliau membelikan makanan kepada kami yang sedang kebingungan mencari rute. Beliau juga menunjukkan beberapa alternatif rute menuju Kampus UI.

Sedangkan di sudut lain di ibu kota, sepupu dari salah seorang kawan saya rela begadang semalaman hanya untuk menjawab sms-sms yang kami kirimkan, bertanya ini itu terkait tempat-tempat di mana kami harus turun dan naik apa, bayar berapa ke tempat tujuan kami. Bahkan pada saat pulang beliau juga yang membelikan kami tiket ke Jogja hingga mengantarkan kepulangan kami, belum ditambah traktiran makan di warung depan stasiun.

Tak hanya itu, ketika saya dan ketiga teman yang lain berpisah (ketiga kawan saya perempuan) untuk mencari tempat istirahat sementara di Jakarta, saya bertemu dengan seorang kawan lain yang senasib, lalu kami tinggal di masjid dekat kampus UI. Di dusun Kukusan. Entah bagaimana mulanya, kami lantas ditawarkan tinggal di rumah penduduk. Ketiga kawan saya bahkan tidak percaya, dan setengah bercanda mengatakan “Pasti kalian terlihat melas sehingga sang empunya rumah itu merasa kasihan!”

Kebaikan itu masih kami terima setelah sebelumnya sempat mengalami kebingungan menentukan pilihan naik KRL jurusan mana untuk sampai ke stasiun Jatinegara. Ketika kami akhirnya memutuskan untuk naik KRL menuju stasiun Manggarai, kami bertemu dengan seorang mahasiswa yang ingin menjemput kawannya di Jatinegara. Maka kami pun memintanya untuk memandu kami. Dengan kondisi KRL yang penuh sesak, ditambah ketidaktahuan kami tentang ciri-ciri stasiun stasiun di mana kami berhenti, kami merasa beruntung, sebab ada yang memandu kami.

Kebaikan yang kami terima bertubi-tubi ini membuat saya sangat bersyukur bahwa di mana pun akan selalu ada orang baik yang Allah kirimkan pada kita. Dan sebuah hikmah yang saya dapatkan, jika tidak ada seorang pun orang baik yang kau temui, maka jadilah orang baik itu sendiri, sehingga minimal akan ada satu orang baik yang engkau temukan. Karena sejatinya, apa yang kita terima adalah hasil dari apa yang kita berikan.

Maka berlaku sebuah hukum timbal balik, “Jika kau ingin memperoleh pertolongan dan keajaiban-keajaiban yang membahagiakanmu, maka tolonglah dan sebarkanlah kebahagiaan kepada orang-orang di sekelilingmu.”

Wallahu a’lam

Categories: catatan sore, Oase Tags:

Teringat, Bahwa Hidup Bisa Tamat!

June 28, 2010 Leave a comment

Warning: some portion of the text may contain strong words, do not read if you are easily insulted!
Tamat
Mungkin banyak yang ada di pikiran, menuntut untuk dilampiaskan, menuntut untuk dieksekusi dan direalisasi. Segala hasrat itu muncul di otak, sebagaimana laju roda mobil yang melucur seru, berkejaran, semakin cepat dan semakin menggila, seolah tiada ingin berhenti, tamat. Kadang, jika jiwa dan jasad tidak kuat, yang akan keluar adalah gerutu. Istilahnya, Kabotan empyak kurang cagak, terlalu banyak keinginan, tapi sumber daya tidak mencukupi. Akhirnya stres..

Itu akan terjadi jika hidup hanya untuk mati. Hidup sekali, habis itu mati dan takkan berarti. Sebuah kerugian di atas kerugian. Kerugian yang berada pada puncak kerugian.

Akan berbeda, jika orientasi hidup itu adalah untuk hidup. Bukan untuk hidup di dunia, tetapi hidup di dunia untuk hidup di akhirat. Seorang kawan penah berpesan, “Jadilah engkau di dunia ini seperti penyeberang jalan, jangan terlalu sibuk mencari dan mengambil uang temuan di tengah jalan hingga akhirnya tertabrak kendaraan yang lalu lalang, tetapi bersegeralah berbekal, karena kehidupan selanjutnya akan segera menjelang, dan itu sifatnya kekal.”

Ya, di sini, mengingat kehidupan yang lebih kekal adalah kuncinya. Betapa kematian itu, kadang datang dengan bentuknya yang paling sederhana. Sesaat seseorang masih kelihatan sehat, bahkan terlihat sangat sehat, namun esok hari ia dikabarkan telah meninggal karena serangan jantung, atau ketika pulang tertabrak hingga meninggal setelah pulang dari sebuah pertemuan.

Celakanya, untuk menempuh jalan istiqamah itu ternyata sangat susah. Menggebu di awal, mundur teratur kemudian. Bahkan itu yang terkait dengan amalan ringan. Rabalah diri, adakah sudah mengistiqamahkan doa akan makan, doa akan tidur dan bangun tidur, dan doa-doa memulai aktivitas lainnya? Itulah refleksi kedekatan kita pada-Nya. Karena itu, tidak usah muluk-muluk, istiqamahlah, meski sedikit, itu lebih disukai. Tetapi berkualitas dan banyak serta istiqamah itulah seutama-utamanya kebaikan.

Ada kalanya, kehidupan dunia ini begitu menyilaukan, hingga melupakan diri dari kehidupan akhirat yang abadi. Kesuksesan dunia dikejar dan dicari, namun akhirat lalai dan tergadai. Hidup terasa sempit, seolah waktu senantiasa kurang untuk menjalankan aktivitasnya, kesibukan selalu mengejar dan membayangi, seolah ia mempunyai urusan yang sangat banyak. Jika sudah demikian, maka khawatirlah. Jangan jangan inilah apa yang digambarkan rasulullah dalam sabdanya: “Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai obsesinya, maka Allah mengacaukan semua urusannya, menjadikannya miskin, dan dunia datang kepadanya sebatas yang ditakdirkan untuknya” (H.r. Ibnu Majah).

Atau jika ternyata dalam kondisi keislaman yang payah, tetapi justru kesuksesan dunia yang ditemui, takutlah, jangan-jangan itu hanyalah istidraj, azab yang dipercepat.

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (Q.s. Hûd [11]:15-16)

Naudzubillah…

Refleksi, itulah yang kini harus dijalani, untuk kemudian bisa mengistiqamahkan perbaikan diri.

Masih ingatkah nasihat seorang kawan bahwa kepayahan dunia itu nilainya tidak ada apa-apanya dengan kenikmatan diakhirat yang kekal, dan kenikmatan dunia yang sementara juga sangat kecil jika dibandingkan dengan siksa di neraka-Nya yang mengerikan sekaligus kekal.

“Mencoba istiqamah,” katamu waktu itu, “ibarat seorang miskin papa yang tiap hari hidup bersahaja dan apa adanya. Tidur beralas tikar kasar, dan hidup di rumah kardus. Suatu saat, ada seorang kaya raya yang memintanya menjadi pegawainya, tapi masih satu bulan lagi. Ia menjanjikan akan memberi gaji 50 juta per bulan.

Mendengar hal ini, sang miskin begitu bahagia, satu bulan lagi ia akan begitu kaya, dengan gaji 50 juta perbulan. Maka, meski sampai satu bulan ke depan ia masih harus tinggal di rumah kardus beralas tikar, itu tidak mengapa, karena harapannya akan kehidupan satu bulan lagi begitu nyata dan begitu besar. Maka selama satu bulan itu, tikar kasar akan terasa empuk dan nyaman, rumah kardus terasa istana lapang, karena harapannya begitu penuh. Ya, begitulah istiqamah menjalankan perintah demi mengharap balasnya,” katamu menutup cerita.

***

Dalam tapak keduapuluh lima, aku menanti, sekali lagi, sebuah jawab yang harus dicari, ke mana ia kan pergi, demi dunia atau akhirat yang abadi…

Sumber gambar: http://www.insidesocal.com/tomhoffarth/end.jpg

Categories: Oase Tags:

Muslim tapi Muallaf

May 20, 2010 4 comments

Some portion of the text may contain strong words and phrases. Do not read if you are easily got insulted.

muslim tapi muallaf
Sahabat, suatu ketika ada seorang yang mengaku sebagai pelukis. Ia mengklaim bahwa ia sudah menjadi pelukis selama berpuluh-puluh tahun. Anehnya ketika diminta untuk melukis ia tidak mampu, teknik mencampur warna dan beberapa teknik menggoreskan kuas di atas kanvas juga ia tidak bisa. Bahkan, ia juga tidak pernah menghasilkan karya meski hanya satu.

Sahabat, kira-kira terhadap orang semacam itu, apakah engkau percaya atas klaimnya yang menyatakan bahwa ia pelukis? Apakah engkau rela menyematkan gelar pelukis kepadanya, padahal ia sama sekali tidak memiliki kompetensi sebagai pelukis?

Saya kira, sebagai orang yang masih mempunyai akal sehat, engkau akan mengingkari klaimnya itu. Demikian pula diriku, Sahabat.

Kisah di atas hanyalah ilustrasi. Barangkali tidak pernah ada yang demikian di dunia ini, tetapi jika yang dimaksud adalah memiliki intisari yang sama, maka kita akan menemukan banyak hal yang kadang itu hanyalah klaim-klaim kosong tak bermakna. Sebuah pertanyaan sederhana misalnya, “Sudah berapa lama kita menjadi seorang Muslim?” Read more…

Categories: Oase Tags: ,

ORANG-ORANG YANG TIDAK INGIN DISHALATKAN KETIKA MENINGGAL (BUKAN MATI SYAHID TP MATI SANGIT)

Sore itu, Mbah Marto, seorang Kyai yang cukup disegani di Dusun Sukaaneh, telah berada di Masjid. Ia memang sering mengisi pengajian dimana-mana, tapi ia tidak mau disebut Kyai Marto dan lebih suka disebut Mbah Marto, lebih enak dipanggil Mbah katanya. Ia terlihat sedang memberikan pengajian tentang nasihat Imam Al-Ghazali tentang hal apa yang paling dekat, paling ringan, paling berat, dan paling jauh bagi manusia, di dihadapan para jamaah pengajian di dusun Sukaaneh. Beliau menjelaskan bahwa yang paling dekat adalah kematian, paling ringan adalah meninggalkan shalat, paling berat adalah amanah, dan yang paling jauh adalah masa lalu.
Read more…

Categories: Oase Tags:
mengambilmakna

Bertabur makna di sekitar kita, sangat banyak! Adakah yang tak ingin mengambilnya?

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

afifahthahirah87

Chicken Soup for My Soul

Musim Semi

berharap hangat itu sampai ke hatimu begitu juga cintaku

RanaWijayaSoe

I have My Own Ele-path

Sang Nusantara

Connecting People with Nature

Lewat kata, aku bicara

Tempat aku menyandarkan beberapa jenak kehidupan lewat kata

Menulis Itu Berbagi

Si Pandai itu besar sekalipun ia kecil, sedangkan si Bodoh itu kecil sekalipun ia besar

amathonthe

Sejauh Kaki Melangkah, Sebanyak Kata Terucap

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

Lailatul Qadr Virtual Home

Blognya Seorang Istri, Seorang Ibu, Seorang (Mantan) Guru, yang sangat menyukai kegiatan luar ruangan, menulis, dan membaca...

(new) Mbot's HQ

Ocehan gak guna seorang pegawai kantoran biasa.

Gerakan Sadar Arsip

Viva Archiva!

wahyugendut39

tetap berharap yang terbaik...

Pumichi's Blog

All about live in the light

Notasi

[n] (1) seperangkat atau sistem lambang (tanda) yg menggambarkan bilangan (tt aljabar), nada (tt musik), dan ujaran (tt fonetik); (2) proses pelambangan bilangan, nada, atau ujaran dng tanda (huruf); (3) catatan pendek yg perlu diketahui atau untuk mengingatkan sesuatu

PKJ 4.0

Tilawah, Tazkiyah, Ta'lim

Freak Dreamer

Reading (is my) Life!