Home > bahasa > Bangsa Indonesia Bangsa Poliglot

Bangsa Indonesia Bangsa Poliglot

Barangkali ada yang bertanya, “Apa itu poliglot?” Yang jelas poliglot tidak ada hubungannya dengan poligami atau poliandri. Poliglot adalah sebuah istilah kebahasaan. Untuk memperjelas akan saya hadirkan definisinya di sini. Menurut Kamus Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa, poliglot diartikan sebagai “dapat mengetahui, menggunakan, dan menulis dalam banyak bahasa; atau orang yg pandai dalam berbagai bahasa.” Maknanya bahwa seorang poliglot memiliki kemampuan untuk memahami berbagai bahasa.

Lantas apa hubungannya dengan bangsa Indonesia? Tentu saja hubungannya baik-baik saja sangat erat. Bangsa Indonesia pada dasarnya adalah bangsa yang memiliki tingkat keterbukaan bahasa (welcomitas)[1] yang begitu besar. Hal ini dapat dipahami mengingat sejarah bahasa yang digunakan oleh bangsa ini memang tergolong unik. Kawasan nusantara sejak dahulu merupakan pusat pertemuan berbagai bangsa di dunia. Mereka datang untuk menjual dagangan sekaligus mencari berbagai komoditi yang mereka butuhkan di negeri asal mereka. Persinggungan berbagai bangsa dengan beragam bahasa ini tentu saja membutuhkan sebuah bahasa yang mampu menampung kebutuhan komunikasi antar bangsa tersebut. Sejak itu hadirlah sebuah lingua franca yaitu bahasa melayu yang merupakan embrio dari bahasa Indonesia.

Lingua franca ini kemudian berkembang pesat dengan majunya kerajaan Sriwijaya dan kerajaan-kerajaan lain di nusantara. Bahkan kemudian bahasa ini banyak menyerap kata-kata dari bangsa lain: Sansekerta, Arab, Persia, India, China, dan lain-lain. Karena itu tidak heran jika saat ini banyak terdapat kata-kata yang sebenarnya bukan asli dari bahasa Indonesia. Artinya bakat poliglot (mengucapkan berbagai bahasa) sudah diwariskan oleh para pendahulu kita.

Masyarakat kemudian menjadi terbiasa memakai istilah yang berasal dari bahasa asing asal ‘tampak’ seperti bahasa Indonesia. Akhirnya kini marak penggunaan kata-kata yang aslinya tidak ada. Seperti welcomitas yang saya sebutkan di atas. Asal cocok dan dapat ditangkap maknanya, maka tiada masalah jika harus menggunakan kata-kata itu. Sebagai contoh, kita lebih mengenal kata efektif dan efisien daripada sangkil dan mangkus. Atau lebih sreg menggunakan kata ‘software’ daripada memakai kata ‘perangkat lunak,’ lebih enak memakai kata ‘welcome’ daripada ‘selamat datang’ di keset.

Bahkan Alif Danya Munsyi merespon fenomena welcomitas bahasa Indonesia ini dengan membuat buku berjudul: 9 Dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing (KPG, 2003), sebuah buku yang menguak fakta-fakta menggelitik tentang banyaknya kata yang selama ini dianggap ‘asli’ Indonesia, tetapi ternyata setelah ditelusuri silsilahnya, kata itu merupakan kata impor dari negeri asing.

Sebagai contoh, kata ‘meleset’ ternyata berasal dari bahasa Perancis ‘malaise’ yang artinya sulit, ramai digunakan dengan pelafalan ‘meleset’ setelah keadaan ekonomi dunia yang sulit (malaise) akibat Perang Dunia I. Contoh lain, kata ‘cinta’ yang sekilas merupakan asli Indonesia, buktinya ada pantun:

Dari mana datangnya lintah

Dari sawah turun ke kali

Dari mana datangnya cinta

Dari mata turun ke hati

Tapi ternyata, pantun ini tidak sejati alias tidak benar, sedangkan yang benar menurut Van Ophuysen dalam Pantun Melayu, Balai Pustaka, no.424 adalah:

Dari mana punai melayang

Dari kayu turun ke padi

Dari mana kasih sayang

Dari mata turun ke hati.

 

Contoh di atas hanya sebagian kecil kata yang bukan ‘asli’ Indonesia. Masih banyak kata lain yang diimpor dari bahasa Sansekerta, Arab, Belanda, Inggris, Italia, dan lain-lain.

Lantas apa sebenarnya yang menjadi poin bahasan “Bangsa Indonesia Bangsa Poliglot” ini? Yaitu bahwa sebenarnya sebagai bangsa yang poliglot dan diwarisi kepoliglotan, dalam era globalisasi yang menuntut kita untuk berkemampuan poliglot, bangsa ini sangat mungkin untuk eksis, paling tidak dari segi bahasa. Karena bagaimanapun bahasa merupakan kunci dari banyak hal: ilmu, jaringan, kekuasaan, dll.

Namun demikian, potensi poliglot saja tidak cukup, harus ada kemauan keras untuk maju, pikiran terbuka, dan iman yang membaja. Dan yakinlah Indonesia akan jaya. Bangga menjadi Muslim Indonesia.

 

[1] Welcomitas adalah istilah karangan saya sendiri, gothak gathuk mathuk.

Categories: bahasa Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

mengambilmakna

Bertabur makna di sekitar kita, sangat banyak! Adakah yang tak ingin mengambilnya?

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

afifahthahirah87

Chicken Soup for My Soul

Musim Semi

berharap hangat itu sampai ke hatimu begitu juga cintaku

RanaWijayaSoe

I have My Own Ele-path

Sang Nusantara

Connecting People with Nature

Lewat kata, aku bicara

Tempat aku menyandarkan beberapa jenak kehidupan lewat kata

Menulis Itu Berbagi

Si Pandai itu besar sekalipun ia kecil, sedangkan si Bodoh itu kecil sekalipun ia besar

amathonthe

Sejauh Kaki Melangkah, Sebanyak Kata Terucap

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

Lailatul Qadr Virtual Home

Blognya Seorang Istri, Seorang Ibu, Seorang (Mantan) Guru, yang sangat menyukai kegiatan luar ruangan, menulis, dan membaca...

(new) Mbot's HQ

Ocehan gak guna seorang pegawai kantoran biasa.

Gerakan Sadar Arsip

Viva Archiva!

wahyugendut39

tetap berharap yang terbaik...

Pumichi's Blog

All about live in the light

Notasi

[n] (1) seperangkat atau sistem lambang (tanda) yg menggambarkan bilangan (tt aljabar), nada (tt musik), dan ujaran (tt fonetik); (2) proses pelambangan bilangan, nada, atau ujaran dng tanda (huruf); (3) catatan pendek yg perlu diketahui atau untuk mengingatkan sesuatu

PKJ 4.0

Tilawah, Tazkiyah, Ta'lim

Freak Dreamer

Reading (is my) Life!

%d bloggers like this: