Home > Oase > Teringat, Bahwa Hidup Bisa Tamat!

Teringat, Bahwa Hidup Bisa Tamat!

Warning: some portion of the text may contain strong words, do not read if you are easily insulted!
Tamat
Mungkin banyak yang ada di pikiran, menuntut untuk dilampiaskan, menuntut untuk dieksekusi dan direalisasi. Segala hasrat itu muncul di otak, sebagaimana laju roda mobil yang melucur seru, berkejaran, semakin cepat dan semakin menggila, seolah tiada ingin berhenti, tamat. Kadang, jika jiwa dan jasad tidak kuat, yang akan keluar adalah gerutu. Istilahnya, Kabotan empyak kurang cagak, terlalu banyak keinginan, tapi sumber daya tidak mencukupi. Akhirnya stres..

Itu akan terjadi jika hidup hanya untuk mati. Hidup sekali, habis itu mati dan takkan berarti. Sebuah kerugian di atas kerugian. Kerugian yang berada pada puncak kerugian.

Akan berbeda, jika orientasi hidup itu adalah untuk hidup. Bukan untuk hidup di dunia, tetapi hidup di dunia untuk hidup di akhirat. Seorang kawan penah berpesan, “Jadilah engkau di dunia ini seperti penyeberang jalan, jangan terlalu sibuk mencari dan mengambil uang temuan di tengah jalan hingga akhirnya tertabrak kendaraan yang lalu lalang, tetapi bersegeralah berbekal, karena kehidupan selanjutnya akan segera menjelang, dan itu sifatnya kekal.”

Ya, di sini, mengingat kehidupan yang lebih kekal adalah kuncinya. Betapa kematian itu, kadang datang dengan bentuknya yang paling sederhana. Sesaat seseorang masih kelihatan sehat, bahkan terlihat sangat sehat, namun esok hari ia dikabarkan telah meninggal karena serangan jantung, atau ketika pulang tertabrak hingga meninggal setelah pulang dari sebuah pertemuan.

Celakanya, untuk menempuh jalan istiqamah itu ternyata sangat susah. Menggebu di awal, mundur teratur kemudian. Bahkan itu yang terkait dengan amalan ringan. Rabalah diri, adakah sudah mengistiqamahkan doa akan makan, doa akan tidur dan bangun tidur, dan doa-doa memulai aktivitas lainnya? Itulah refleksi kedekatan kita pada-Nya. Karena itu, tidak usah muluk-muluk, istiqamahlah, meski sedikit, itu lebih disukai. Tetapi berkualitas dan banyak serta istiqamah itulah seutama-utamanya kebaikan.

Ada kalanya, kehidupan dunia ini begitu menyilaukan, hingga melupakan diri dari kehidupan akhirat yang abadi. Kesuksesan dunia dikejar dan dicari, namun akhirat lalai dan tergadai. Hidup terasa sempit, seolah waktu senantiasa kurang untuk menjalankan aktivitasnya, kesibukan selalu mengejar dan membayangi, seolah ia mempunyai urusan yang sangat banyak. Jika sudah demikian, maka khawatirlah. Jangan jangan inilah apa yang digambarkan rasulullah dalam sabdanya: “Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai obsesinya, maka Allah mengacaukan semua urusannya, menjadikannya miskin, dan dunia datang kepadanya sebatas yang ditakdirkan untuknya” (H.r. Ibnu Majah).

Atau jika ternyata dalam kondisi keislaman yang payah, tetapi justru kesuksesan dunia yang ditemui, takutlah, jangan-jangan itu hanyalah istidraj, azab yang dipercepat.

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (Q.s. Hûd [11]:15-16)

Naudzubillah…

Refleksi, itulah yang kini harus dijalani, untuk kemudian bisa mengistiqamahkan perbaikan diri.

Masih ingatkah nasihat seorang kawan bahwa kepayahan dunia itu nilainya tidak ada apa-apanya dengan kenikmatan diakhirat yang kekal, dan kenikmatan dunia yang sementara juga sangat kecil jika dibandingkan dengan siksa di neraka-Nya yang mengerikan sekaligus kekal.

“Mencoba istiqamah,” katamu waktu itu, “ibarat seorang miskin papa yang tiap hari hidup bersahaja dan apa adanya. Tidur beralas tikar kasar, dan hidup di rumah kardus. Suatu saat, ada seorang kaya raya yang memintanya menjadi pegawainya, tapi masih satu bulan lagi. Ia menjanjikan akan memberi gaji 50 juta per bulan.

Mendengar hal ini, sang miskin begitu bahagia, satu bulan lagi ia akan begitu kaya, dengan gaji 50 juta perbulan. Maka, meski sampai satu bulan ke depan ia masih harus tinggal di rumah kardus beralas tikar, itu tidak mengapa, karena harapannya akan kehidupan satu bulan lagi begitu nyata dan begitu besar. Maka selama satu bulan itu, tikar kasar akan terasa empuk dan nyaman, rumah kardus terasa istana lapang, karena harapannya begitu penuh. Ya, begitulah istiqamah menjalankan perintah demi mengharap balasnya,” katamu menutup cerita.

***

Dalam tapak keduapuluh lima, aku menanti, sekali lagi, sebuah jawab yang harus dicari, ke mana ia kan pergi, demi dunia atau akhirat yang abadi…

Sumber gambar: http://www.insidesocal.com/tomhoffarth/end.jpg

Categories: Oase Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

mengambilmakna

Bertabur makna di sekitar kita, sangat banyak! Adakah yang tak ingin mengambilnya?

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

afifahthahirah87

Chicken Soup for My Soul

Musim Semi

berharap hangat itu sampai ke hatimu begitu juga cintaku

RanaWijayaSoe

I have My Own Ele-path

Sang Nusantara

Connecting People with Nature

Lewat kata, aku bicara

Tempat aku menyandarkan beberapa jenak kehidupan lewat kata

Menulis Itu Berbagi

Si Pandai itu besar sekalipun ia kecil, sedangkan si Bodoh itu kecil sekalipun ia besar

amathonthe

Sejauh Kaki Melangkah, Sebanyak Kata Terucap

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

Lailatul Qadr Virtual Home

Blognya Seorang Istri, Seorang Ibu, Seorang (Mantan) Guru, yang sangat menyukai kegiatan luar ruangan, menulis, dan membaca...

(new) Mbot's HQ

Ocehan gak guna seorang pegawai kantoran biasa.

Gerakan Sadar Arsip

Viva Archiva!

wahyugendut39

tetap berharap yang terbaik...

Pumichi's Blog

All about live in the light

Notasi

[n] (1) seperangkat atau sistem lambang (tanda) yg menggambarkan bilangan (tt aljabar), nada (tt musik), dan ujaran (tt fonetik); (2) proses pelambangan bilangan, nada, atau ujaran dng tanda (huruf); (3) catatan pendek yg perlu diketahui atau untuk mengingatkan sesuatu

PKJ 4.0

Tilawah, Tazkiyah, Ta'lim

Freak Dreamer

Reading (is my) Life!

%d bloggers like this: