Home > catatan sore > Kebudayaan Seperti Apakah Yang Patut Dilestarikan?

Kebudayaan Seperti Apakah Yang Patut Dilestarikan?

Pertanyaan di atas sempat tebersit di kepala saya tatkala mengamati beberapa fenomena pelestarian kebudayaan di masyarakat akhir-akhir ini. Berdalih melakukan pelestarian kebudayaan, pemerintah bersama para sponsor berlomba-lomba mencari event-event budaya yang dapat dilestarikan dan ditawarkan pada para turis, baik asing maupun local. Sebagai contoh misalnya upacara labuhan yang jelas-jelas terkandung kesyirikan di sana, yaitu melarung barang-barang untuk dipersembahkan kepada Nyai Roro Kidul, meskipun berlindung dibalik pernyataan sebagai bentuk syukur kepada Ilahi. Kiranya tidak sedikit acara sejenis acara syirik yang berkedok upaya pelestarian budaya dan peningkatan pendapatan daerah dengan masuknya wisatawan.

Disadari ataupun tidak, setiap masyarakat memiliki budaya/adatnya masing-masing. Suatu kebudayaan memang tidak dapat dikatakan lebih baik atau lebih jelek dari kebudayaan lain, misalkan tentang pandangan orang timur dan orang barat tentang sapaan. Orang timur, terbiasa saling sapa ketika berjumpa dengan orang lain. Sementara orang barat sedikit berbeda dalam hal ini, mereka tidak terlalu ‘memperhatikan’ orang lain, bukan karena tidak peduli, tetapi karena merasa bahwa itu bukan urusannya, dan bila dipaksakan menyapa maka akibatnya justru dia sendiri yang disalahkan.

Contoh lain adalah kebiasaan berpakaian, kita yang sudah berpakaian menutup tubuh tentu tidak bisa dikatakan lebih baik daripada mereka yang hanya berpakaian seadanya sebagaimana suku-suku pedalaman yang belum mengenal pakaian. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan standar penilaian akibat persepsi yang berbeda. Jadi menilai keunggulan suatu budaya dibanding dengan budaya lain menggunakan standar budaya yang ada pada suatu budaya tertentu akan menyebabkan penilaian tersebut menjadi tidak obyektif.

Namun demikian, Sebagai seorang Muslim kita mempunyai pegangan yang jelas dalam menilai apakah suatu budaya dapat dikatakan baik/layak/beradab. Di antara syarat tersebut, menurut Ahmad Zain An Najah, MA* yaitu:
1. Kebudayaan/adat tersebut memiliki manfaat bagi manusia.
2. Kebudayan/adat tersebut memiliki nilai positif dan mengangkat harkat dan martabat manusia.
3. Kebudayan/adat tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.

Dari pemaparan di atas, kita dapat mengambil contoh sebuah adat. Dalam tradisi jawa, urusan manusia dari sebelum lahir (mengandung) sampai sesudah meninggal selalu diperingati dengan adanya upacara. Upacara-upacara ini sebenarnya memiliki makna-makna tertentu, misalkan dalam upacara kematian, biasanya ketika jenazah dijalankan menuju ke pemakaman, ada anggota keluarga yang membuang uang receh, hal ini menggambarkan bahwa orang mati tidak butuh lagi uang, makanya disebar agar dapat digunakan orang yang masih hidup.

Sayangnya, makna-makna ini tidak dipahami oleh orang-orang masa kini, sehingga yang terjadi adalah taklid buta, bahwa kalau orang dulu melakukan ini, maka hal ini pun juga harus dilakukan sekarang, meski tanpa tahu maknanya. Padahal, tujuan para wali dahulu adalah menanamkan nilai-nilai melalui simbol-simbol. Karenanya, tidak jarang sebagian kita yang kemudian justru terjebak pada ritual yang menyeleweng dari ajaran islam.

Selain itu, jika dilihat dari segi maslahatnya, tidak jarang perayaan-perayaan itu justru menimbulkan kesusahan tersendiri bagi orang yang merayakannya. Misalkan perayaan kematian. Dalam kondisi berkabung dimana seharusnya seseoramg justru mendapatkan dukungan baik spiritual atau bahkan material, dengan adanya perayaan tersebut ia harus tambah menderita. Itu baru soal kematian, dalam acara kehamilan, dan kelahiran pun juga tak lepas dari adat biaya tinggi. Di sini, adat bukan menjadi sesuatu yang bermanfaat tetapi justru memperberat.

Padahal islam mengajarkan tentang kesederhanaan dan mengutamakan asas manfaat. Islam tidak mensyariatkan adanya mitoni (mitoni bukan upacara menyembelih ular piton, lho) saat seorang mengandung, juga tidak ada istilah selapanan ketika ada anak lahir (yang ada adalah memotong rambut dan aqiqah).

Di sini jelaslah bahwa islam sebenarnya datang untuk memudahkan manusia. Islam juga tidak hendak mengganggu adat/kebudayaan yang sudah ada, jika adat tersebut memang bermanfaat, tidak memberatkan, berakibat positif bagi manusia serta tidak bertentangan dengan ajaran islam.

Namun demikian, dalam kesempatan ini, bukan wewenang saya untuk menentukan apakah adat tertentu sesuai atau tidak dengan islam, karena hal ini memerlukan pendalaman dan penelitian lebih jauh selain bahwa jumlah adat yang ada di negeri ini amat sangat banyak jumlahnya sehingga tidaklah mungkin untuk memilah satu persatu tanpa penelitian yang dalam. Hanya saja, dalam melihat apakah suatu adat/budaya perlu dilestarikan atau tidak, perlu mengacu pada syarat-syarat yang sudah disebutkan di atas. Dengan demikian, tidak ada lagi adat/budaya negative/merugikan yang justru dilestarikan hanya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.

* Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Al Azhar, Fak. Studi Islam. http://ahmadzain.wordpress.com/2006/12/08/relasi-antara-islam-dan-kebudayaan/

Categories: catatan sore Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

mengambilmakna

Bertabur makna di sekitar kita, sangat banyak! Adakah yang tak ingin mengambilnya?

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

afifahthahirah87

Chicken Soup for My Soul

Musim Semi

berharap hangat itu sampai ke hatimu begitu juga cintaku

RanaWijayaSoe

I have My Own Ele-path

Sang Nusantara

Connecting People with Nature

Lewat kata, aku bicara

Tempat aku menyandarkan beberapa jenak kehidupan lewat kata

Menulis Itu Berbagi

Si Pandai itu besar sekalipun ia kecil, sedangkan si Bodoh itu kecil sekalipun ia besar

amathonthe

Sejauh Kaki Melangkah, Sebanyak Kata Terucap

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

Lailatul Qadr Virtual Home

Blognya Seorang Istri, Seorang Ibu, Seorang (Mantan) Guru, yang sangat menyukai kegiatan luar ruangan, menulis, dan membaca...

(new) Mbot's HQ

Ocehan gak guna seorang pegawai kantoran biasa.

Gerakan Sadar Arsip

Viva Archiva!

wahyugendut39

tetap berharap yang terbaik...

Pumichi's Blog

All about live in the light

Notasi

[n] (1) seperangkat atau sistem lambang (tanda) yg menggambarkan bilangan (tt aljabar), nada (tt musik), dan ujaran (tt fonetik); (2) proses pelambangan bilangan, nada, atau ujaran dng tanda (huruf); (3) catatan pendek yg perlu diketahui atau untuk mengingatkan sesuatu

PKJ 4.0

Tilawah, Tazkiyah, Ta'lim

Freak Dreamer

Reading (is my) Life!

%d bloggers like this: