Home > catatan sore > Agnostik Itu Makanan Apa, Je?

Agnostik Itu Makanan Apa, Je?

Mungkin ada yang sudah tahu makna agnostik, ada juga yang baru mendengarnya. Maaf judul di atas agak provokatif. Tapi sengaja agar pembahasannya tidak terkesan berat. Nah, demi memperjelas pembahasan kali ini, perlulah kiranya dihadirkan definisi agnostik.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia keluaran Pusat Bahasa, agnostik dideskripsikan sebagai “Orang yg berpendapat bahwa tiada sesuatu yg dapat diketahui tentang Tuhan selain dari hal-hal kebendaan.” Sementara Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikannya sebagai “Orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (misal Tuhan) tidak dapat diketahui dan mungkin tidak dapat diketahui.” Nah, bingung?

Jika bingung, barangkali kita bisa beralih untuk sementara waktu pada “ateis.” Saya yakin semua sudah paham apa itu ateis. Orang yang tidak percaya akan adanya tuhan, begitu kurang lebih definisinya. Meminjam pengertian ateis ini, kita akan coba mencari tahu apakah itu agnostik. Nah, jikalau ateis berpijak pada keyakinan bahwa tuhan itu tidak ada, artinya mereka memulainya dengan sebuah “keyakinan,” maka agnostik memulai pemahaman mereka dengan keraguan. Keraguan bahwa apakah tuhan itu ada atau tidak ada, keraguan apakah tuhan itu dapat diketahui atau tidak: keraguan bahwa mungkin tuhan itu ada, tapi bagaimana kita mengetahuinya?

Paham? Keyakinan yang menarik bukan? Coba kita simak perkataan penganutnya:

“Aku tidak menganggap bahwa disebut agnostik adalah hinaan, tetapi itu lebih merupakan pujian. Aku tidak berpura-pura tahu ketika banyak orang yang tidak tahu justru yakin.” Clarence Darrow (1857 – 1938).

Mungkin ada yang protes, “Apanya yang menarik?”

Sangat menarik! Di satu sisi keyakinan agnostik memulai keyakinan mereka dengan keraguan, tetapi di sisi lain mereka bisa sangat bangga bahwa mereka tidak berpura-pura seolah tahu ketika orang-orang yang kiranya tidak tahu malah merasa yakin. “Agnostik itu membanggakan!” Begitu kata mereka. Ingin protes? Tunggu dulu.. kita simak lagi penuturan tokoh mereka yang lain, kali ini agnostic mencari hal lain sebagai kompensasi atas keraguannya atas keberadaan tuhan:

“Aku percaya bahwa kebahagiaan adalah satu-satunya hal baik, dan cara untuk bisa bahagia adalah membuat orang lain bahagia” Robert Green Ingersoll (1833-1899).

Sungguh menarik, bahkan saya juga sepakat dalam beberapa segi dengan pendapat ini. Sebuah pemahaman yang sangat humanis. Lihat saja kutipan dari Ingersoll di atas, sangat humanis, sangat manusiawi. Bahkan meskipun mereka memulainya dengan keraguan.

Tapi tunggu dulu, jangan menuduh saya sebagai penganut agnostic. Saya akan mencoba mengelaborasi kutipan terakhir.

Sejatinya, manusia itu memiliki kecenderungan untuk “menuhankan” sesuatu. Insting mengenai adanya kekuatan di luar kuasa manusia bahkan sudah dikenal sejak lampau dalam berbagai peradaban. Karenanya kita bisa menyebutkan dewa-dewa semisal Zeus di Yunani, Shiwa di India, Ra di Mesir, dsb. Hal ini karena memang manusia merasakan adanya control di luar dirinya yang turut memengaruhi kehidupannya. Bahkan dalam konteks masyarakat yang dianggap primitive sekalipun kita juga menemukan kecenderungan ini, yaitu animisme dan dinamisme. Inilah yang kemudian kita sebut sebagai fitrah manusia yang cenderung ingin menuhankan sesuatu.

Agama-agama, menerjemahkan keyakinan ini dengan aktivitas penyembahan terhadap Tuhan mereka dengan berbagai nama-Nya, sementara kepercayan animisme dinamisme menyalurkan fitrah mereka melalui penyembahan benda-benda yang dianggap memiliki control atas diri mereka.

Kaum agnostic, yang meragui tentang keberadaan tuhan, ternyata masih menyisakan sesuatu dalam keyakinan mereka, yakni adanya kekuatan di luar control mereka. Hanya saja karena terbatasnya “hidayah” yang dapat mereka cerna di antara banyaknya bukti keberadaan Tuhan ini, akhirnya mereka memutuskan diri untuk tetap ragu akan hal ini. Namun demikian, kebutuhan untuk “menuhankan” sesuatu itu tidak dapat mereka hilangkan. Dan oleh karena itu, mereka mencoba mencari “tuhan” baru yang itu harus bisa membuat mereka yakin yang tidak membuat mereka ragu. Dan hal ini, dapat mereka temukan pada prinsip-prinsip hidup mereka (baca: pembacaan mereka atas fenomena-fenomena yang terjadi). Dalam konteks kutipan di atas, kita menemukan bahwa yang dituhankan adalah sebuah paham baru: Humanisme.

“Aku percaya bahwa kebahagiaan adalah satu-satunya hal baik, dan cara untuk bisa bahagia adalah membuat orang lain bahagia” Robert Green Ingersoll (1833-1899).

Mereka meragui apakah dosa dan pahala itu ada, tetapi mereka yakin bahwa apa yang mereka lakukan adalah karena usaha mereka sendiri, disertai dengan keberuntungan atau kebuntungan; atau bahwa seseorang itu baik, jika ia berbuat baik dengan orang lain.

Tidak berhenti di situ, humanisme ini juga lantas merambah ilmu pengetahuan. Bahkan ada yang sampai mengatakan bahwa satu-satunya kebenaran adalah science karena telah banyak bukti-bukti, sementara keyakinan agama-agama itu hanyalah sesuatu yang sulit dibuktikan, bahkan dianggap tiada buktinya. Imbasnya, keyakinan semacam ini akan membuat seseorang menjadi penganut materialisme, sekaligus menuhankan akal. Di sini tuhan mereka adalah akal itu sendiri. Dalam kehidupan nyata, hal ini misalnya dapat ditengarai dengan maraknya penisbian peran tuhan dalam kehidupan manusia, sekularisme. Beragama, tapi hanya separo-separo, tidak full alias tidak kaaffah.

Beragama Tapi Agnostik

Mungkin ada yang protes lagi, “Apa lagi ini?” “Bagaimana bisa?” “Ah, tidak mungkin…” Silakan kalau mau protes, tapi ternyata ada. Indonesia adalah contoh yang bagus bagi pengikut agnostic jenis ini. Silakan lihat kalau tidak percaya. Indonesia adalah negara yang penduduknya beragama, 80an persen Islam, sisanya Nasrani, Hindu, Budha, dll. Tapi lihatlah, Indonesia adalah negara yang angka korupsinya sangat tinggi, kejahatannya banyak. Mereka beragama, tapi tidak percaya Tuhan!

Bagaimana Bisa?

Bisa, karena mereka tahu bahwa Tuhan itu ada, tetapi hanya menganggap bahwa Tuhan itu hanya ada di masjid-masjid, di gereja-gereja, di pura-pura, atau di wihara-wihara. Di luar itu, maka Tuhan diragukan keberadaannya. Tuhan tidak merea yakini keberadaannya ketika korupsi, ketika mereka berzina, ketika mereka berbohong, ketika mereka zalim, ketika mereka bermaksiat, ketika mereka menggunjing, ketika mereka menghujat dan menyakiti saudaranya, ketika mereka mencuri, dan sebagainya.

Dan sepertinya—semoga ini tidak terjadi—besok senin ini, di Indonesia jumlah penganut agnostic ini akan bertampah berlipat-lipat, di antara mereka adalah guru-guru dan murid-murid yang demi kelulusannya rela menganut agnostic dan meragui keberadaan tuhan.

Ya, melalui tulisan ini, sebenarnya saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri, agar tidak menjadi penganut agnostic, apalagi ateis. Sebab, jika demikian mungkin kita akan berpikiran sama dengan para tentara Soviet yang desersi pada pada PD II dengan alasan yang sangat realistis: ”’Tidak ada bedanya apakah kami mati sebagai patriot pembela negara atau sebagai pecundang yang bersembunyi di kolong ranjang. Karena kami tak punya Tuhan yang akan membalas perbuatan baik kami di kehidupan selanjutnya!” (Salim A Fillah, Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim)

Dan bukankah islam mengajarkan kita untuk beriman, dan yang namanya iman itu adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan? Dan yang paling tinggi dari itu adalah ihsan: anta’budallaha kaannaka tarahu, fa illam takuntarahu fa innahu yaraka. Sembahlah Aku (Allah) seolah-olah engkau melihat-Ku, dan jika kamu tidak mampu melihat, maka ketahuilah bahwa Aku melihatmu. Sebuah pesan yang indah dari Allah… semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk berislam, beriman, dan berihsan. Amin…

Farikhsaba.

Gambar diambil dari

Categories: catatan sore
  1. March 22, 2010 at 9:14 pm

    Tulisan yang sangat menginspirasi, saudaraku
    Memang, persoalan melihat keberadaan Tuhan itu tidak bisa dipisahkan dengan hidayah. Tanpa itu, kita sendiri belum tentu akan bisa tegak sebagai seorang Muslim yang teguh dengan keyakinan atas dien ini

    Saleuem

    • March 23, 2010 at 9:08 pm

      Satu kunci, memang hidayah itulah. Karenanya, mari kita mencari, dan menjaganya agar tetap tersemai. Walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun…

  2. June 26, 2010 at 6:20 pm

    menarik…salam kenal… menurut saya justru budaya atau pendidikan agama yang kita terima di Indonesia inilah yg sebenarnya banyak membuat umat yang menyebut dirinya beragama (di KTP) merasa jauh dan tak dapat menjangkau Tuhannya. Saya merasakan betul ini ketika masih bersekolah maupun ketika ikut TPA di masjid. Ustadz2 dan Guru2 tidak mewakili asmaul husna-ny Allah, namun malah seakan2 memposisikan diri sebagai makhluk yg serba takut, terlalu dogmatis, merasa tak berhak meneliti agama sbg kebenaran yg ilmiah, shg melahirkan anak didik yg patuhnya kpd Tuhan itu neurotis, bukan berlandaskan keihlasan dn kebersahajaan. ketika sudah keluar dr lembaga yg mengajarkan pelajaran agama, maka banyak yg akhirny tdk sholat dan tdk lagi percaya Tuhan itu bisa dijangkau….
    terimakasih sudah berbagi…

    • June 26, 2010 at 7:36 pm

      Saya pikir tidak hanya pelajaran agama yang membuat masyarakat indonesia semacam ini. Tetapi lebih kepada sistem kependidikan secara umum, bagaimana kemudian bisa membuat mereka lebih kreatif, tidak sekadar menghafal atau bisa mengerjakan soal. Anak-anak diajari takut dan malu bukan pada tempatnya…
      Wallahu a’lam.
      Terima kasih sudah berkunjung

  3. June 28, 2010 at 2:41 pm

    ya, sy jg setuju…sama2…

  4. izuyadi
    July 8, 2010 at 6:08 am

    ada ulasan yg cukup bagus ttg agnostik di http://www.ajangkita.com/forum/viewtopic.php?t=28252&start=0

    salam

  5. July 27, 2010 at 2:34 pm

    Salam,
    Tulisan ini memberikan pencerahan. Saya tertarik pada bagian penutupnya. Seandainya setiap manusia memahami maksudnya maka semuanya akan berlangsung dengan baik. Kalaupun manusia tidak bisa melihat Tuhan, namun Tuhan mampu melihat manusia dengan segala perbuatannya. Inti kalimat ini yang perlu dipahami dengan benar oleh setiap orang.
    Salam kenal dari Nias

  6. nisa
    October 15, 2011 at 9:49 pm

    saya lebih mudah memahami agnostik dari artikel ini http://tajarrud.wordpress.com/2011/04/05/memahami-agnostikisme/

  7. June 27, 2012 at 11:06 am

    good reading,, i love it,,

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

mengambilmakna

Bertabur makna di sekitar kita, sangat banyak! Adakah yang tak ingin mengambilnya?

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

afifahthahirah87

Chicken Soup for My Soul

Musim Semi

berharap hangat itu sampai ke hatimu begitu juga cintaku

RanaWijayaSoe

I have My Own Ele-path

Sang Nusantara

Connecting People with Nature

Lewat kata, aku bicara

Tempat aku menyandarkan beberapa jenak kehidupan lewat kata

Menulis Itu Berbagi

Si Pandai itu besar sekalipun ia kecil, sedangkan si Bodoh itu kecil sekalipun ia besar

amathonthe

Sejauh Kaki Melangkah, Sebanyak Kata Terucap

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

Lailatul Qadr Virtual Home

Blognya Seorang Istri, Seorang Ibu, Seorang (Mantan) Guru, yang sangat menyukai kegiatan luar ruangan, menulis, dan membaca...

(new) Mbot's HQ

Ocehan gak guna seorang pegawai kantoran biasa.

Gerakan Sadar Arsip

Viva Archiva!

wahyugendut39

tetap berharap yang terbaik...

Pumichi's Blog

All about live in the light

Notasi

[n] (1) seperangkat atau sistem lambang (tanda) yg menggambarkan bilangan (tt aljabar), nada (tt musik), dan ujaran (tt fonetik); (2) proses pelambangan bilangan, nada, atau ujaran dng tanda (huruf); (3) catatan pendek yg perlu diketahui atau untuk mengingatkan sesuatu

PKJ 4.0

Tilawah, Tazkiyah, Ta'lim

Freak Dreamer

Reading (is my) Life!

%d bloggers like this: