Home > Uncategorized > ORANG-ORANG YANG GAGAL MENJADI MANUSIA

ORANG-ORANG YANG GAGAL MENJADI MANUSIA

ORANG-ORANG YANG GAGAL MENJADI MANUSIA


“Hidup ini adalah pilihan, apakah ingin hidup semata untuk diri sendiri atau hidup untuk seluruh alam. Betapa banyak orang gagal justru dalam hal mendasar; mereka tidak dapat menghargai orang lain, yang berarti mereka tidak pula dapat menghargai diri mereka sendiri. Dengan kata lain, mereka telah gagal menjadi manusia.”

**********************

Sebuah kendaraan melaju menuju ke luar kota. Satu mobil itu berisi enam manusia. Awalnya suasana baik-baik saja, tidak ada apa-apa, bahkan selanjutnya pun juga tidak ada hal yang cukup mengganggu keseluruhan perjalanan tersebut. Tetapi tidak begitu menurut satu orang di sana. Salah satu dari penumpang mulai “nyepur” atau dalam istilah jawa timuran disebut “obong-obong congor” –buat temen2 yang dari Jatim mohon dikoreksi kalau salah. Ya…kepulan asap itu begitu mengganggunya, tapi ternyata tidak bagi sebagian besar orang di sana, karena ternyata mereka pun melakukan aktivitas yang sama: merokok.

“Duh.., “ pikirnya. Tapi ia mencoba rileks,meminta agar tidak merokok agaknya kalah suara. Tapi tidak apa meminta dengan halus, serta minta agar Jendela dibuka tidak ada salahnya. Tetapi ternyata, reaksi itu tidak seperti yang diharapkan. “Ya sudahlah” batinnya. Kalau lanjut lagi salah-salah justru ia yang dibilangin, “Kalau ndak mau kena rokok ya jangan di sini..” Mengingat posisinya yang memang hanya numpang.

***********************

Pagi-pagi udara masih sejuk, meski di sana-sini banyak berlalu lalang kendaraan bermotor. Setiap pagi, ruas jalan ini memang selalu dipenuhi dengan kendaraan, baik sepeda motor, sepeda ontel maupun mobil dan kendaraan roda empat lainnya. Jalan ini memang tidak terlalu lebar sehingga maklum kalau ruas jalan seolah selalu saja penuh.

Di satu sisi jalan terjadi antrian kebelakang, tidak panjang memang tapi cukup mengganggu. Apa pasal? Dua orang pengguna jalan memenuhi ruas kiri jalan itu sambil asyiknya mengobrol, tanpa memedulikan pengguna jalan lain. Spontan, makian klakson pun kencang berbunyi.

***********************

Ya… itulah potret fenomena yang terjadi di masyarakat. Ada dua posisi yang diperankan dalam kejadian di atas. Posisi pertama adalah pelaku, dan posisi yang lain adalah korban. Mana yang lebih menguntungkan?

Tentunya kita tidak memilih salah satunya. Korban, tentu tidak ingin karena kita dirugkan. Pelaku, kita pun pasti juga tidak ingin karena kita tidak ingin dibenci. Tetapi masalahnya, kita seringkali tidak menyadari bahwa kita sedang melakukan “kezaliman” sampai posisi kita berganti dari menjadi subyek menjadi obyek. Kita seringkali baru sadar ketika kita kita menjadi korban.Namun sayangnya, kesadaran itupun seringkali tumbuh hanya apada saat itu, tidak berlanjut pada perbaikan diri kita. Seringkali jika posisi korban sudah berganti, kita gagal untuk berempati terhadap orang lain.

Ini adalah sebuah pilihan tentang hidup, bahwa hidup itu bukan hanya sendiri, ada timbal balik di sana. Ketika kita respek terhadap orang lain, sejatinya kita sedang menghargai diri sendiri. Penghargaan ini akan tumbuh seiring intensitas kita menghargai orang lain. Sayangnya banyak yang sudah lupa akan hal ini—lupa bukan dalam artian tidak tahu, tetapi lupa dalam artian enggan melakukan. Keegoisan kita kadang lebih dominan bermain. Seperti contoh perilaku merokok yang tidak mengenal kondisi. Berlindung atas nama pemakluman bahwa orang merokok itu sulit dihentikan, mereka yang merokok itu nyantai saja menzalimi saudaranya. (tentunya hal ini tidak berlaku bagi perokok yang bisa menempatkan diri secara tepat)

Atas nama waktu yang mepet, orang lalu enak saja mengebut dijalan raya, menerabas lampu Merah atau menggunakan lajur jalan lain untuk berhenti ketika lampu merah sehingga mengganggu jalannya lalu lintas dari arah lain.

Ya… mereka (kita juga) sering berlindung atas nama keengganan, permakluman, dan kebiasaan yang sebenarnya kita tahu bahwa itu tidak akan bermanfaat bagi kita, bahkan tak jarang malah menimbulkan kerugian bagi diri sendiri juga bagi orang lain. Sekali lagi, hidup ini adalah pilihan, apakah ingin hidup semata untuk diri sendiri atau hidup untuk seluruh alam. Betapa banyak orang gagal justru dalam hal mendasar; mereka tidak dapat menghargai orang lain, yang berarti mereka tidak pula dapat menghargai diri mereka sendiri. Dengan kata lain, mereka telah gagal menjadi manusia.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

mengambilmakna

Bertabur makna di sekitar kita, sangat banyak! Adakah yang tak ingin mengambilnya?

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

afifahthahirah87

Chicken Soup for My Soul

Musim Semi

berharap hangat itu sampai ke hatimu begitu juga cintaku

RanaWijayaSoe

I have My Own Ele-path

Sang Nusantara

Connecting People with Nature

Lewat kata, aku bicara

Tempat aku menyandarkan beberapa jenak kehidupan lewat kata

Menulis Itu Berbagi

Si Pandai itu besar sekalipun ia kecil, sedangkan si Bodoh itu kecil sekalipun ia besar

amathonthe

Sejauh Kaki Melangkah, Sebanyak Kata Terucap

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

Lailatul Qadr Virtual Home

Blognya Seorang Istri, Seorang Ibu, Seorang (Mantan) Guru, yang sangat menyukai kegiatan luar ruangan, menulis, dan membaca...

(new) Mbot's HQ

Ocehan gak guna seorang pegawai kantoran biasa.

Gerakan Sadar Arsip

Viva Archiva!

wahyugendut39

tetap berharap yang terbaik...

Pumichi's Blog

All about live in the light

Notasi

[n] (1) seperangkat atau sistem lambang (tanda) yg menggambarkan bilangan (tt aljabar), nada (tt musik), dan ujaran (tt fonetik); (2) proses pelambangan bilangan, nada, atau ujaran dng tanda (huruf); (3) catatan pendek yg perlu diketahui atau untuk mengingatkan sesuatu

PKJ 4.0

Tilawah, Tazkiyah, Ta'lim

Freak Dreamer

Reading (is my) Life!

%d bloggers like this: