Give Away: Download CrossOver versi Gratisan Bagi Pengguna Linux

October 31, 2012 Leave a comment

Beberapa pengguna linux mungkin masih berharap dapat mencicipi program-program yang ada di Windows, seperti Ms. Office, Photoshop, Macromedia, serta game berbasis windows. Alasannya beragam, mungkin karena belum terbiasa menggunakan perangkat lunak di Linux atau karena yang lain.

 

Selama ini paling tidak ada 3 perangkat lunak yang bisa digunakan untuk menjalankan aplikasi di Windows, yaitu Wine (gratis dan  paling populer), PlayOnLinux (gratis juga), dan CrossOver (berbayar). Saya sudah mencoba ketiganya, dan saya rasakan bahwa CrossOver adalah yang paling baik dalam menjalankan program Windows. Sayang, CrossOver ini berbayar, sedangkan saya inginnya yang gratisan. Akhirnya saya hanya sempat mencoba yang trialnya saja, dan kemudian beralih ke Wine lagi.

 

Tetapi kini ada kabar baik, CrossOver, mengumumkan akan melakukan give away bagi semua penggunanya. Beberapa waktu yang lalu, CodeWeavers, perusahaan pembuat CrossOver memulai kampanye “Flock the Vote”, mengumumkan bahwa mereka akan merilis CrossOver secara gratis jika 100.000 warga Amerika bersedia berjanji untuk memilih pada pemilu presiden 2012. Meskipun kampanye ini belum berhasil, sang CEO, Jeremy White, tetap memutuskan untuk membagi CrossOver secara gratis.

 

CrossOver akan berlaku gratis selama setahun (12 months support) bagi semuanya pada Rabu, 31 Oktober, dari 00:00 sampai 23:59 pm, Central Daylight Time.

 

Silakan mendownloadnya di sini: http://flock.codeweavers.com/

Categories: catatan sore

#2 Agar Kamu Bertakwa

August 2, 2011 Leave a comment

Alhamdulillah, sudah hari kedua

Apa saja yang telah kau kerja?

Ramadhan adalah sebuah momen yang berharga untuk mengumpulkan pundi-pundi amal. Momen yang sangat berharga, yang tak boleh sama sekali terlewat, karena entah tahun depan apakah kita masih bisa berjumpa dengannya. Di sini, di Ramadhan kita, ada kewajiban berpuasa, yang tidak seperti ibadah lainnya yang untuk kita sendiri, puasa adalah untuk Allah. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman: “Puasa itu milik-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya” (H.r.  Bukhari ). Hadis tersebut menunjukkan keutamaan dan ketinggian nilai puasa di sisi Allah.

Ali ash-Shabuni di dalam kitabnya Rawa’i al-Bayan; Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Qur’an, mendefinisikan puasa sebagai, “Menahan diri dari makanan, minuman, dan berjimak, yang disertai dengan niat dari mulai terbit fajar hingga tenggelamnya matahari. Sempurnanya puasa adalah dengan menjauhi apa-apa yang dilarang dan tidak sampai melakukan apa-apa yang diharamkan.” Ada 3 kata kunci yang menarik untuk dicermati yaitu kata “menahan”, “terbit fajar” dan “tenggelamnya matahari”. Tiga kata tersebut dapat disederhanakan menjadi menahan, sahur dan buka. Ketiga kata ini sangat terkait satu sama lain ketika hubungkan dengan praktik puasa yang dilakukan oleh generasi salafush shaleh.

Kita diwajibkan untuk menahan ketika berpuasa, yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa maupun membatalkan pahala puasa sebagaimana sebagiannya telah disebutkan di dalam definisi di atas. Dalam kitab Durrah an-Nashihin disebutkan, “Ada lima perkara yang bisa membatalkan pahala puasa. Pertama, berkata dusta (al-Kidzb). Kedua, menggunjing (al-Ghibah). Ketiga, mengadu domba (an-Namimah). Keempat,  bersumpah palsu (al-Yamin al-Ghamus). dan kelima, memandang penuh nafsu (an-Nadzar bi Syahwah).

Lantas, kiranya apa hubungan antara menahan dengan sahur dan buka? Ada sebuah fenomena menarik yang kiranya diamati, kita akan mendapatkan hikmah yang dalam. Rasulullah mensunnahkan ummatnya untuk makan sahur meskipun hanya dengan air putih. Sedangkan utamanya dalah dengan kurma.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sahur itu makanan yang barokah, janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya meneguk seteguk air, karena Allah dan malaikatNya bershalawat kepada orang-orang yang sahur.”

Dalam hal buka, Rasulullah juga mensunnahkan bahan tertentu yaitu kurma:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum shalat, jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan kurma, jika tidak ada kurma, beliau minum dengan satu tegukan air” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah).

Sunnah berbuka dengan kurma ini, sesungguhnya sangat menarik. Seperti diketahui bahwa makan kurma, seberapa pun laparnya, seseorang tidak akan makan sepiring penuh kurma pada sekali waktu. Ia kemungkinan hanya akan makan beberapa buah kurma ditambah air putih dan sudah merasa cukup dengannya. Hal ini sangat berbeda dengan kebiasaan yang ada dalam masyarakat kita yang makan banyak jenis makanan, seolah semua ingin dimakan. Makan sepuasnya setelah seharian menahan diri darinya. Motivasinya adalah motivasi pelampiasan. Motivasi balas dendam karena seharian menahan diri darinya.

Maka hasil dari dua hal bertolak belakang ini dapat kita amati hasilnya setelahnya. Mereka yang berbuka dengan memakan beberapa kurma dan air putih, akan tetap mampu meneruskan ibadah isya’ dan tarawih, sedangkan mereka yang berlebihan dalam berbuka kemungkinan besar akan kalah dan tidak kuat melakukan ibadah karena kekenyangan.

Puasa adalah menahan, sebagai latihan, bukan untuk kemudian melakukan pelampiasan setelahnya, tetapi agar setelahnya tetap mampu menahan. Barangkali ini yang banyak dilupakan orang. Sehingga barangkali karena inilah setelah lebaran seolah tidak ada perubahan dan perbaikan pada masyarakat kita, karena semangatnya adalah pelampiasan. Pelampiasan setelah sebulan menahan.

Maka hanya bagi orang-orang yang dapat menahan diri, dan tidak berlebihan ketika berbuka, maupun setelah usai ramadhan saja yang berpeluang mendapat gelar taqwa.

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa” (QS Al Baqarah: 183).

Wallahu a’lam

 

Categories: catatan sore Tags:

GRATIS ITU ARTINYA BAYAR 1000!

“Ma, gratis itu artinya bayar 1000 Rupiah ya?” tanya Hilma pada Mamanya.

“Eh, bukan, Hilma… gratis itu tidak bayar, Sayang..” jawab Mama.

“Bayar 1000 kok, Ma… kalau ga percaya tanya Kak Farhan..” Hilma semangat mendebat mamanya.

“Iya, Ma, tadi waktu kami ke toilet, memang ada tulisan ‘Toilet Gratis’, tapi ternyata bayar Rp. 1000, Ma,” Pungkas Farhan.[1]

 

Toilet Gratis Tapi Bayar

Toilet Gratis Tapi Bayar

Beberapa kali menggunakan toilet di Stasiun Kereta Api, saya mendapati tulisan “Toilet Gratis”. Saya kira memang tidak bayar, namun keberadaan orang yang duduk di pintu keluar dengan posisi menggenggam banyak uang ribuan, membuat para pengguna toilet menjadi sungkan untuk tidak membayar .

Fenomena semacam ini agaknya terjadi tidak hany

a di stasiun tertentu, tapi hampir merata di setiap stasiun. Saya tidak tahu apa alasannya, tapi pertanyaan saya adalah jika memang toilet itu disediakan gratis bagi para penumpang, mengapa para penjaga toilet itu dibiarkan? Bukankah itu justru mencederai citra pengelola stasiun? Atau barangkali memang arti gratis itu sudah menjadi “BAYAR SERIBU”?


[1] Dialog di atas hanya merupakan ilustrasi yang saya buat, apabila terdapat nama-nama atau kejadian yang sama, maka itu hanyalah kebetulan semata.

Categories: catatan sore Tags:

Menikmati Sisa Sejarah Masa Lampau di Kota Tua

Sabtu, 21 Mei 2011, selepas ashar, kami bertiga, anggota Gank Absurd Berakhiran ‘NI’, berangkat menuju Kota Tua atau yang dikenal sebagai Batavia Lama. Kami harus berjalan lumayan jauh ke Shelter Senayan JCC, transit di shelter Semanggi, lalu berjalan menyeberangi jembatan ke shelter Benhil dan melanjutkan perjalanan menggunakan rute bus Koridor I hingga tujuan akhir (Stasiun Kota).

Kami sampai di pemberhentian terakhir sekitar pukul 16.30, dan langsung beranjak menuju kompleks Museum Fatahillah, tempat keramaian berpusat. Di sepanjang jalan menjelang sampai di tempat tersebut dijajakan pelbagai barang, mulai dari jam tangan, sepatu, kaos, hingga kartu perdana dan barang-barang unik lain. Ada pula mobil tua dipamerkan, dan kita bisa berfoto di atasnya. Tentu saja setelah diizinkan pemiliknya.

Setelah sampai, sejenak kami ingin menghilangkan dahaga dengan memesan minuman yang dijual di lapak-lapak di sana. Teman-teman memesan es jeruk, tapi seperti biasa, minuman saya tetap tanpa es. Harganya lumayan mahal: Rp. 5000.

Museum Wayang
Museum Wayang

 

Suasana di Depan Museum Fatahillah

Suasana di Depan Museum Fatahillah

Selepas itu, kami berputar-putar menikmati suasana kota tua. Ada beberapa bangunan yang kami lihat. Di antaranya adalah Museum Wayang, Museum Fatahillah, Kantor Pos, Café Batavia dan sebagainya. Sayang, museum-museum itu tidak dapat kami masuki karena sudah tutup. Kabarnya, mereka buka dari Selasa sampai Minggu pukul 09.00 – 15.00 WIB.

Kantor Pos

Kantor Pos

 

Cafe Batavia

Cafe Batavia

Museum Fatahillah juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia. Dahulu merupakan Balai Kota yang dibangun pada tahun 1707-1710 dan menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Info lebih lanjut silakan lihat di sini

Suasana di depan Museum Fatahillah begitu ramai, dan lebih ramai lagi ketika sudah gelap. Kabarnya, sering ada kegiatan seni di sini. Kita juga bisa menyewa sepeda beserta topi ala Kompeni untuk dipakai berputar-putar kompleks kota tua, atau untuk sekadar berfoto ria dengan suasana dan pakaian zaman kolonial. Beberapa bangunan masih berdiri kokoh, namun, sebagian lain sudah terlihat memprihatinkan, dan malah berbahaya, butuh perhatian pemerintah untuk restorasi.

Oya, satu hal yang cukup menarik di lokasi ini, banyak pasangan yang datang dengan kostum khusus untuk melakukan foto pre-wedding. Saya tidak habis pikir juga, karena pengambilan gambar dilakukan di lokasi yang gelap dan seram, serasa memasuki wahana rumah hantu. Tapi biarlah, itu urusan mereka.

Selepas shalat Maghrib, kami menuju Jembatan Kota Intan. Jembatan ini dibangun pada tahun 1628 dengan nama Engelse Burg yang berarti “Jembatan Inggris” karena jembatan ini menghubungkan Benteng Belanda dan Benteng Inggris yang terletak berseberangan dibatasi oleh Kali Besar – Kali Ciliwung. Setelah mengalami perbaikan dan perubahan nama berkali-kali, setelah proklamasi kemerdekaan RI nama jembatan ini diganti menjadi ”Jembatan Kota Intan”, disesuaikan dengan nama lokasi setempat. Letak Jembatan Kota Intan berada dekat dengan salah satu bastion Kastil Batavia yang bernama Bastion Diamont (Intan). Kastil Batavia yang merupakan kota tua Batavia sering disebut sebagai Kota Intan. Keterangan lebih lanjut lihat di sini.

 

Jembatan Kota Intan terlihat keemasan di malam hari

Jembatan Kota Intan terlihat keemasan di malam hari

Toko Merah

Toko Merah

Sungai Ciliwung di mana terdapat Jembatan Kota Intan ini sejatinya bisa menjadi nilai plus bagi kota tua. Sayangnya, air Sungai Ciliwung ini sangat kotor dan baunya sangat menusuk hidung, sehingga selain mengurangi estetika, juga mengurangi kenyamanan dalam menikmati suasana bangunan-bangunan kuno di kota tua ini. Entah kapan, kita bisa menikmati duduk di pinggir sungai yang menyimpan sejarah tinggi ini sambil menikmati alirannya yang bening dan tanpa disertai bau busuk yang menyengat.

Kami menemukan biro jodoh di kawasan Kota Tua

Kami menemukan biro jodoh di kawasan Kota Tua

Kerak Telur

Kerak Telur

Dari Jembatan kami kembali ke kawasan Museum Fatahillah. Malam sudah menjelang dan perut sudah minta diisi. Kami tertarik mencoba Kerak Telur. Telur bebek/ayam dicampur dengan kelapa atau semacam srundeng, dan sepertinya digoreng tanpa minyak. Cukup enak, tapi ternyata mahal. Kami harus merogoh kocek Rp. 12.000 untuk menikmatinya. Merasa belum kenyang, kami pun memesan ketoprak. Harganya lebih murah. Rp. 8000. Masih harga standar, karena di dekat kos harganya juga segitu. Setelah kenyang, kami lantas memutuskan untuk pulang. Berharap kali lain dapat ke sana lagi dan bisa masuk ke museumnya.
Tapi ternyata, petualangan Gank Absurd Berakhiran “Ni” belum berhenti sampai di situ. Karena bingung, kami tidak berhenti di tempat seharusnya sehingga harus muter-muter jalan kaki, salah naik bis, tanya sana-sini, hingga akhirnya sampai kos sekitar pukul 22.30. Perjalanan yang melelahkan, tapi mengasyikkan.

Categories: catatan sore Tags:

Membunuh Kepedulian

Oleh Farid Ikhsan Asbani

Malam itu, perasaan saya benar-benar campur aduk tak menentu, ego bertarung dengan nurani, antara keinginan untuk tetap duduk dan keinginan untuk menolong. Malam itu, saya berada dalam perjalanan kereta kelas ekonomi menuju kota Yogyakarta. Alhamdulillah, saya mendapatkan tempat duduk. Di dekat saya ada dua gadis kakak beradik seumuran 8 dan 9 tahun, bersama entah ibu atau kakak mereka. Yang jelas, mereka tidak mendapatkan tempat duduk alias berdiri.

Kereta berangkat dari Stasiun Tanah Abang dan mereka akan turun di Stasiun Cirebon. Sempat tebersit keinginan untuk menawarkan tempat duduk saya kepada mereka berdua, tetapi akhirnya urung setelah gadis yang lebih kecil berpindah agak menjauh dari saya. Sementara anak yang lebih besar duduk berselonjor di jalan yang membelah kursi sisi kanan dan kiri. Saya pun mulai berusaha memejamkan mata agar esok hari tidak terlalu kelelahan.

Sampai suatu ketika sang adik mendekat pada kakaknya, saya melihat sesuatu yang membuat hati saya terenyuh. Tangan kiri sang adik ternyata dibebat perban dan memakai gendongan. Saya tidak tahu apakah itu karena tangannya retak, patah atau apa. Yang jelas, melihat tangannya digendong seperti itu sudah membuat saya merasa terenyuh. Berada di tengah jalan semacam itu bisa berbahaya bagi tangannya yang cedera. Sebab, meskipun jalan sudah dipenuhi oleh para penumpang yang duduk, tetapi para pedagang masih saja berlalu lalang setiap beberapa menit seka

li. Dan seringkali, dalam aktivitas berlalu lalang tersebut mereka menyenggol dan mengganggu para penumpang yang duduk di jalan di antara kursi sisi kanan dan kiri.

Sementara sang adik tertidur, sang kakak sesekali mengibaskan kertas koran yang ia pegang untuk mengusir gerah atau sekadar membenarkan letak kepala atau posisi tangan sang adik. Sebuah pemandangan yang sungguh mengharukan. Kemesraan kakak-adik yang membuat hati dan air mata saya semakin meleleh. Sang kakak akan berusaha menghalangi setiap kali ada pedagang yang lewat melangkahi mereka. Saya melihat kanan kiri dan berpikir mengapa tidak ada yang tergerak menawarkan kursinya. Apakah tidak ada yang kasihan melihat mereka berdua? Betapa inginnya saya menawarkan kursi saya, tetapi ternyata rasa ego saya lebih besar.

Setelah beberapa saat bertahan, saya pun memutuskan untuk menawarkan agar sang adik mau duduk di tempat saya. Namun, sepertinya adik itu sungkan menerima tawaran saya dan lebih memilih tidur dipangkuan sang kakak. Mungkin dia malu atau takut berada di dekat orang-orang yang tidak ia kenal.

Saya yakin bahwa tidak sedikit dari penumpang yang merasa iba melihat pemadangan itu, tetapi mengapa tidak satu pun yang menawarkan bantuan, sebuah pertanyaan masih mengganjal di benak saya. Saya juga sangat yakin bahwa tidak mungkin orang-orang di kereta itu berhati jahat, barangkali mereka hanya saling menunggu, atau semuanya berpikiran seperti saya, “Mengapa tidak ada yang menolong?”

Sebuah penelitian oleh Bibb Latane dan John Darley, yang dikemukakan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya Tipping Point, di mana mereka mengatur agar seorang mahasiswa di sebuah apartemen berpura-pura mengalami epilepsi, ditemukan bahwa apabila tetangga mahasiswa itu hanya satu orang dan orang itu tahu tidak ada orang lain di sekitar tempat itu, maka peluang orang tersebut untuk menolong adalah 85%. Namun jika orang itu tahu bahwa ada empat tetangga lain yang menurutnya mendengar gejala serangan epilepsi, maka peluang untuk menolong menjadi 31%. Dalam eksperimen lain, orang yang melihat asap mengepul dari bawah pintu mempunyai peluang 75% untuk melaporkkan kejadian itu ketika ia hanya sendirian, tetapi peluangnya berkurang menjadi 38% ketika saksi mata tahu bahwa ada saksi mata lain yang melihat bersamanya.

Penelitian di atas mungkin memang menampakkan kecenderungan manusia untuk saling menunggu, tetapi itu bukan berarti menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan. Karena kita tahu bahwa adanya kecenderungan tidak membolehkan kita meninggalkan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Sebab jika demikian, kecenderungan manusia untuk lalai akan mendominasi seluruh aspek hidup kita. Karenanya, sebagai seorang Muslim tidaklah layak kiranya bagi kita untuk saling menunggu untuk menolong saudaranya.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam Al-Iman Wal Hayah menceritakan sebuah kisah bahwa suatu ketika kaum muslimin sedang melawan kaum kafir dalam sebuah peperangan. Terbentang sebuah sungai di antara mereka. Panglima kaum muslimin memerintahkan pasukan untuk menyeberangi sungai. Namun tiba-tiba salah seorang berteriak, “Piringku, piringku!” Pasukan muslimin yang mendengarnya pun langsung menyelam dan mencari piring yang terjatuh itu. Banyak yang ikut menyelam mencari piring itu hingga akhirnya ditemukan.

Pasukan kafir yang berada di seberang sungai menyaksikan dengan terkagum-kagum. Dalam pikiran mereka, “Piring salah seorang dari mereka yang terjatuh saja mengundang reaksi sedemikian rupa. Bagaimana jika salah seorang dari mereka mati terbunuh?” Itulah yang tebersit di hati pasukan kaum kafir. Maka pasukan musuh pun menyerah sebelum berperang.

Kisah di atas menunjukkan jauhnya jarak antara apa yang seharusnya dilakukan dan kecenderungan yang biasa terjadi. Maka tidaklah layak bagi seorang Muslim untuk membunuh kepedulian terhadap saudaranya sesama Muslim, karena Rasul bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam” (HR  Muslim).

Malam itu, saya merasa sedih, sekaligus malu, karena baru di saat-saat terakhir saya tergerak untuk membangkitkan kepedulian yang sebelumnya hampir-hampir saya bunuh. Somoga Allah menguatkan hati dan amal kita agar lebih peduli terhadap sesama. Karena menjadi peduli adalah menjadi berarti. Padahal tiada hal yang lebih baik daripada memiliki hidup yang berarti.Khairunnas anfa’uhum linnas.

Wallahu a’lam bish-shawab

Artikel ini ditulis untuk fimadani.com. dan dimuat di http://www.fimadani.com/membunuh-kepedulian/

Categories: catatan sore, Oase Tags: ,

MENGHENINGKAN CIPTA

May 20, 2011 3 comments

Pagi ini saya kembali mengikuti upacara bendera setelah lama tidak melakukannya pasca lulus SMA. Dalam upacara yang dilakukan dalam rangka memperingati hari Kebangkitan Nasional ke-103 tanggal 20 Mei 2011 ini, terdapat hal unik sekaligus mengelitik pada salah satu sesinya. Satu sesi yang sebenarnya sudah biasa saya ikuti sejak SD hingga SMA setiap hari senin. Sebuah sesi di mana kita diperdengarkan sebuah instrumen atau nyayian, sebuah sesi bernama mengheningkan cipta.

Meski sudah lama melakukannya tanpa tanya, tetapi pagi ini saya benar-benar tergelitik untuk bertanya, sebenarnya apa yang seharusnya dilakukan kala mengheningkan cipta? Apakah kita hanya disuruh mendengarkan alunan instrumen atau nyanyian yang diperdengarkan? Ataukah seperti instruksi Pembina Upacara: “Marilah kita mengheningkan cipta untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan.” Jika bisa kembali ke masa SD dahulu, sangat ingin saya menanyakannya. (ada yang bersedia menanyakannya pada Bapak/Ibu Guru? Nanti kasih tahu jawabannya pada saya ya..)

Secara bahasa, kata mengheningkan cipta terdiri dari dua kata dasar, yaitu hening dan cipta. Hening, mengheningkan mengandung arti diam; sunyi; sepi; lengang, atau merenungkan (mengenangkan) sesuatu. Sementara cipta bermakna “kemampuan pikiran untuk mengadakan sesuatu yg baru; angan-angan yg kreatif.” Kamus Besar Bahasa Indonesia berbaik hati memasukkan frase mengeheningkan cipta ini menjadi salah satu sub-entrinya, yang kemudian dimaknai sebagai “bertafakur; diam merenung arwah; bersemadi.” Artinya, kurang lebih selama masa diperdengarkan instrumen atau lagu itu kita diminta merenungkan jasa-jasa dan perjuangan para pahlawan negeri ini, persis seperti instruksi yang disampaikan Pembina Upacara.

Namun ternyata fakta di lapangan berbicara lain, kebanyakan peserta upacara justru tidak melakukan hal ini dengan benar. Di Yahoo Answer misalnya dinyatakan sebagai jawaban terbaik untuk pertanyaan ini adalah ngelamun. Sementara di Kaskus, karena tidak ada jawaban terbaik, disebutkan rata-rata seperti: lihat ke bawah, lihat sepatu, ngantuk, merem, ngejahilin teman, dan sebagainya. Aktivitas-aktivitas di atas juga sering saya temui, bahkan itulah yang paling lazim terjadi. Tentunya, maksud baik dari aktivitas mengheningkan cipta ini menjadi rusak dan tidak produktif.

Melihat kenyataan ini, tentunya aktivitas ini menjadi sesuatu yang naïf. Sebab, mengenang jasa pahlawan bukanlah dengan sekadar diam mendengarkan instrument atau lagu selama kurang lebih 4 menit, tetapi mengenang mereka justru diharapkan dilakukan dengan tindakan nyata, yaitu dengan memajukan kehidupan bangsa, bertindak professional di segala bidang, dan sebagainya. Sebab, mereka dahulu berjuang demi bangsa ini bukan karena ingin dikenang selama 4 menit setiap Senin atau pada peringatan hari besar lain. Maka, semangatnyalah yang perlu kita contoh, bukan dengan mengalokasikan waktu selama 4 menit dan setelah itu lupa, tetapi selama 24 jam dalam setiap aktivitas kita.

Namun, satu pertanyaan tersisa di benak saya adalah, sebenarnya apa yang seharusnya dilakukan kala mengheningkan cipta? Apakah ini relevan untuk dilakukan?

Farikhsaba

B-210511

Categories: catatan sore Tags:

Jangan Biarkan Imanmu Merapuh

May 11, 2011 2 comments

Oleh Farid Ikhsan Asbani

Saudaraku, suatu ketika dalam episode hidup ini, mungkin kita sampai pada momen yang membuat kita begitu terpuruk, sangat susah untuk bangkit. Sebuah kondisi di mana masalah mendera bertubi-tubi, tanpa jeda, tanpa ampun. Tak terlihat celah sedikitpun untuk membebaskan diri dari permasalahan-permasalahan itu.

Suatu ketika, mungkin, kita pernah mengalaminya. Dan pada saat itu, masalah-masalah yang mendera begitu berkuasa menghancurkan idealisme kita, menghancurkan harapan kita satu-satunya: asa. Kita sempurna terkena sindrom patah arang. Sebuah sindrom yang amat berbahaya bagi makhluk hidup bernama manusia.

Suatu ketika, mungkin ini nyata, banyak di antara kita mengalaminya. Kita sudah lelah, tak kuat lagi bertahan meski sejenak. Seolah kita tak pernah belajar untuk optimis, bahkan lupa sama sekali atau mulai menganggap bahwa optimisme sekadar hal basi yang sama sekali tidak ada gunanya. Kita hidup tapi tanpa asa, beraktivitas tapi tanpa ruh, menjadi semacam robot yang melakukan semuanya secara mekanik tanpa makna.

Namun sadarkah kita bahwa rapuh sejatinya tidaklah datang secara tiba-tiba. Ibarat sebuah bangunan, ia takkan ambruk begitu saja. Tetapi rapuh adalah proses yang terjadi secara halus dan terus menerus. Ketika beban yang dipikul oleh bangunan itu sudah tidak mampu lagi dipertahankan, maka bangunan itu akan roboh. Boleh jadi, bagi yang tidak tahu, bangunan itu terlihat roboh secara tiba-tiba, tetapi sejatinya, bangunan itu sudah mulai roboh sejak awal pengeroposan dimulai. Ketiadaan perawatan dan perbaikanlah yang membuatnya roboh.

Begitu pula, seseorang tidak mungkin tiba-tiba mengalami stres, tetapi hal itu terjadi secara pelan-pelan dan kian bertambah seiring bertambah lemahnya pondasi pertahanannya. Ketika permasalahan semakin menderanya bertubi-tubi, sementara pondasinya kian rapuh, maka stres tinggal menunggu waktu. Rapuh, sejatinya terjadi secara perlahan, sedikit demi sedikit. Yang diserang adalah pondasi utama, pondasi dari segala pondasi kita hidup di dunia ini. Pondasi yang mendasari segala tindakan kita. Pondasi yang dengannya kita memandang dunia, menghadapi kencangnya angin hidup dan guyuran badai cobaan. Ya, pondasi itu adalah iman.

Ketika iman mulai keropos, jika ia tidak segera mendapat perawatan atau perbaikan, maka jatuhnya pondasi hidup seseorang tinggalah menunggu waktu. Ia akan lebih rentan tertekan dan terkena depresi ketika menghadapi persoalan hidup. Ia boleh terlihat kaya raya, rupawan, tersohor, tapi tanpa iman ia rapuh. Serapuh sarang laba-laba yang putus sekali hempas. Ibarat pohon, ia adalah pohon yang tak mampu bertahan meski oleh tiupan angin yang tak terlalu kencang.

Maka iman, mau tidak mau, harus dirawat, dijaga dan dijauhkan dari berbagai hal yang merusaknya. Jagalah iman, dengan menambah pengetahuan kita tentang-Nya. Jagalah iman dengan senantiasa memikirkan ciptaan dan ayat-ayat-Nya yang dihamparkan pada kita. Jagalah iman dengan memperbanyak amal kepada-Nya dengan cara-cara yang dituntunkan-Nya. Jagalah iman, dengan berkumpul dengan orang-orang yang dicintai-Nya. Jagalah iman dengan berbagai cara yang sering bisa bisa kita lakukan tetapi kita abaikan.

Karena sejatinya, masalah adalah pewarna kehidupan, membuat hidup lebih dinamis, lebih menarik, tentunya dengan pengelolaan yang benar. Masalah adalah wahana bagi Sang Khalik untuk menaikkan derajat hamba-Nya yang bertakwa. Lihatlah pohon alpukat, sesekali waktu sebelum musim buah, dedaunnya habis dimakan ulat. Boleh jadi, habisnya daun itu adalah masalah tersendiri bagi sang pohon. Proses fotosintesis dan produksi zat-zat makanannya boleh jadi terganggu, tetapi ia tidak mati. Namun, perhatikanlah beberapa waktu setelahnya. Pohon alpukat akan kembali menumbuhkan daunnya, dan bahkan mengeluarkan buahnya. Ulat-ulat itu hanya berfungsi memberikan shock terapi berupa stres ringan, yang akibatnya justru positif, yaitu memicu peningkatan produksi buah.

Maka begitulah bagi orang yang beriman. Masalah adalah pemicu bagi dirinya untuk semakin produktif dan meningkatkan kapasitas. Karena ia yakin sepenuhnya pada janji Allah bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Q.s. al-Baqarah [2]: 286).

Maka jangan lupa untuk senantiasa berdoa:

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir” (Q.s. al-Baqarah [2]: 286).

Wallahu a’lam

Artikel ini telah dimuat di www.fimadani.com

Categories: Oase
mengambilmakna

Bertabur makna di sekitar kita, sangat banyak! Adakah yang tak ingin mengambilnya?

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

afifahthahirah87

Chicken Soup for My Soul

Musim Semi

berharap hangat itu sampai ke hatimu begitu juga cintaku

RanaWijayaSoe

I have My Own Ele-path

Sang Nusantara

Connecting People with Nature

Lewat kata, aku bicara

Tempat aku menyandarkan beberapa jenak kehidupan lewat kata

Menulis Itu Berbagi

Si Pandai itu besar sekalipun ia kecil, sedangkan si Bodoh itu kecil sekalipun ia besar

amathonthe

Sejauh Kaki Melangkah, Sebanyak Kata Terucap

J4uharry

Membayar cita-cita dengan jerih-payah yang pantas !!!

Lailatul Qadr Virtual Home

Blognya Seorang Istri, Seorang Ibu, Seorang (Mantan) Guru, yang sangat menyukai kegiatan luar ruangan, menulis, dan membaca...

(new) Mbot's HQ

Ocehan gak guna seorang pegawai kantoran biasa.

Gerakan Sadar Arsip

Viva Archiva!

wahyugendut39

tetap berharap yang terbaik...

Pumichi's Blog

All about live in the light

Notasi

[n] (1) seperangkat atau sistem lambang (tanda) yg menggambarkan bilangan (tt aljabar), nada (tt musik), dan ujaran (tt fonetik); (2) proses pelambangan bilangan, nada, atau ujaran dng tanda (huruf); (3) catatan pendek yg perlu diketahui atau untuk mengingatkan sesuatu

PKJ 4.0

Tilawah, Tazkiyah, Ta'lim

Freak Dreamer

Reading (is my) Life!