Archive

Archive for May, 2011

Membunuh Kepedulian

Oleh Farid Ikhsan Asbani

Malam itu, perasaan saya benar-benar campur aduk tak menentu, ego bertarung dengan nurani, antara keinginan untuk tetap duduk dan keinginan untuk menolong. Malam itu, saya berada dalam perjalanan kereta kelas ekonomi menuju kota Yogyakarta. Alhamdulillah, saya mendapatkan tempat duduk. Di dekat saya ada dua gadis kakak beradik seumuran 8 dan 9 tahun, bersama entah ibu atau kakak mereka. Yang jelas, mereka tidak mendapatkan tempat duduk alias berdiri.

Kereta berangkat dari Stasiun Tanah Abang dan mereka akan turun di Stasiun Cirebon. Sempat tebersit keinginan untuk menawarkan tempat duduk saya kepada mereka berdua, tetapi akhirnya urung setelah gadis yang lebih kecil berpindah agak menjauh dari saya. Sementara anak yang lebih besar duduk berselonjor di jalan yang membelah kursi sisi kanan dan kiri. Saya pun mulai berusaha memejamkan mata agar esok hari tidak terlalu kelelahan.

Sampai suatu ketika sang adik mendekat pada kakaknya, saya melihat sesuatu yang membuat hati saya terenyuh. Tangan kiri sang adik ternyata dibebat perban dan memakai gendongan. Saya tidak tahu apakah itu karena tangannya retak, patah atau apa. Yang jelas, melihat tangannya digendong seperti itu sudah membuat saya merasa terenyuh. Berada di tengah jalan semacam itu bisa berbahaya bagi tangannya yang cedera. Sebab, meskipun jalan sudah dipenuhi oleh para penumpang yang duduk, tetapi para pedagang masih saja berlalu lalang setiap beberapa menit seka

li. Dan seringkali, dalam aktivitas berlalu lalang tersebut mereka menyenggol dan mengganggu para penumpang yang duduk di jalan di antara kursi sisi kanan dan kiri.

Sementara sang adik tertidur, sang kakak sesekali mengibaskan kertas koran yang ia pegang untuk mengusir gerah atau sekadar membenarkan letak kepala atau posisi tangan sang adik. Sebuah pemandangan yang sungguh mengharukan. Kemesraan kakak-adik yang membuat hati dan air mata saya semakin meleleh. Sang kakak akan berusaha menghalangi setiap kali ada pedagang yang lewat melangkahi mereka. Saya melihat kanan kiri dan berpikir mengapa tidak ada yang tergerak menawarkan kursinya. Apakah tidak ada yang kasihan melihat mereka berdua? Betapa inginnya saya menawarkan kursi saya, tetapi ternyata rasa ego saya lebih besar.

Setelah beberapa saat bertahan, saya pun memutuskan untuk menawarkan agar sang adik mau duduk di tempat saya. Namun, sepertinya adik itu sungkan menerima tawaran saya dan lebih memilih tidur dipangkuan sang kakak. Mungkin dia malu atau takut berada di dekat orang-orang yang tidak ia kenal.

Saya yakin bahwa tidak sedikit dari penumpang yang merasa iba melihat pemadangan itu, tetapi mengapa tidak satu pun yang menawarkan bantuan, sebuah pertanyaan masih mengganjal di benak saya. Saya juga sangat yakin bahwa tidak mungkin orang-orang di kereta itu berhati jahat, barangkali mereka hanya saling menunggu, atau semuanya berpikiran seperti saya, “Mengapa tidak ada yang menolong?”

Sebuah penelitian oleh Bibb Latane dan John Darley, yang dikemukakan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya Tipping Point, di mana mereka mengatur agar seorang mahasiswa di sebuah apartemen berpura-pura mengalami epilepsi, ditemukan bahwa apabila tetangga mahasiswa itu hanya satu orang dan orang itu tahu tidak ada orang lain di sekitar tempat itu, maka peluang orang tersebut untuk menolong adalah 85%. Namun jika orang itu tahu bahwa ada empat tetangga lain yang menurutnya mendengar gejala serangan epilepsi, maka peluang untuk menolong menjadi 31%. Dalam eksperimen lain, orang yang melihat asap mengepul dari bawah pintu mempunyai peluang 75% untuk melaporkkan kejadian itu ketika ia hanya sendirian, tetapi peluangnya berkurang menjadi 38% ketika saksi mata tahu bahwa ada saksi mata lain yang melihat bersamanya.

Penelitian di atas mungkin memang menampakkan kecenderungan manusia untuk saling menunggu, tetapi itu bukan berarti menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan. Karena kita tahu bahwa adanya kecenderungan tidak membolehkan kita meninggalkan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Sebab jika demikian, kecenderungan manusia untuk lalai akan mendominasi seluruh aspek hidup kita. Karenanya, sebagai seorang Muslim tidaklah layak kiranya bagi kita untuk saling menunggu untuk menolong saudaranya.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam Al-Iman Wal Hayah menceritakan sebuah kisah bahwa suatu ketika kaum muslimin sedang melawan kaum kafir dalam sebuah peperangan. Terbentang sebuah sungai di antara mereka. Panglima kaum muslimin memerintahkan pasukan untuk menyeberangi sungai. Namun tiba-tiba salah seorang berteriak, “Piringku, piringku!” Pasukan muslimin yang mendengarnya pun langsung menyelam dan mencari piring yang terjatuh itu. Banyak yang ikut menyelam mencari piring itu hingga akhirnya ditemukan.

Pasukan kafir yang berada di seberang sungai menyaksikan dengan terkagum-kagum. Dalam pikiran mereka, “Piring salah seorang dari mereka yang terjatuh saja mengundang reaksi sedemikian rupa. Bagaimana jika salah seorang dari mereka mati terbunuh?” Itulah yang tebersit di hati pasukan kaum kafir. Maka pasukan musuh pun menyerah sebelum berperang.

Kisah di atas menunjukkan jauhnya jarak antara apa yang seharusnya dilakukan dan kecenderungan yang biasa terjadi. Maka tidaklah layak bagi seorang Muslim untuk membunuh kepedulian terhadap saudaranya sesama Muslim, karena Rasul bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam” (HR  Muslim).

Malam itu, saya merasa sedih, sekaligus malu, karena baru di saat-saat terakhir saya tergerak untuk membangkitkan kepedulian yang sebelumnya hampir-hampir saya bunuh. Somoga Allah menguatkan hati dan amal kita agar lebih peduli terhadap sesama. Karena menjadi peduli adalah menjadi berarti. Padahal tiada hal yang lebih baik daripada memiliki hidup yang berarti.Khairunnas anfa’uhum linnas.

Wallahu a’lam bish-shawab

Artikel ini ditulis untuk fimadani.com. dan dimuat di http://www.fimadani.com/membunuh-kepedulian/

Categories: catatan sore, Oase Tags: ,

MENGHENINGKAN CIPTA

May 20, 2011 3 comments

Pagi ini saya kembali mengikuti upacara bendera setelah lama tidak melakukannya pasca lulus SMA. Dalam upacara yang dilakukan dalam rangka memperingati hari Kebangkitan Nasional ke-103 tanggal 20 Mei 2011 ini, terdapat hal unik sekaligus mengelitik pada salah satu sesinya. Satu sesi yang sebenarnya sudah biasa saya ikuti sejak SD hingga SMA setiap hari senin. Sebuah sesi di mana kita diperdengarkan sebuah instrumen atau nyayian, sebuah sesi bernama mengheningkan cipta.

Meski sudah lama melakukannya tanpa tanya, tetapi pagi ini saya benar-benar tergelitik untuk bertanya, sebenarnya apa yang seharusnya dilakukan kala mengheningkan cipta? Apakah kita hanya disuruh mendengarkan alunan instrumen atau nyanyian yang diperdengarkan? Ataukah seperti instruksi Pembina Upacara: “Marilah kita mengheningkan cipta untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan.” Jika bisa kembali ke masa SD dahulu, sangat ingin saya menanyakannya. (ada yang bersedia menanyakannya pada Bapak/Ibu Guru? Nanti kasih tahu jawabannya pada saya ya..)

Secara bahasa, kata mengheningkan cipta terdiri dari dua kata dasar, yaitu hening dan cipta. Hening, mengheningkan mengandung arti diam; sunyi; sepi; lengang, atau merenungkan (mengenangkan) sesuatu. Sementara cipta bermakna “kemampuan pikiran untuk mengadakan sesuatu yg baru; angan-angan yg kreatif.” Kamus Besar Bahasa Indonesia berbaik hati memasukkan frase mengeheningkan cipta ini menjadi salah satu sub-entrinya, yang kemudian dimaknai sebagai “bertafakur; diam merenung arwah; bersemadi.” Artinya, kurang lebih selama masa diperdengarkan instrumen atau lagu itu kita diminta merenungkan jasa-jasa dan perjuangan para pahlawan negeri ini, persis seperti instruksi yang disampaikan Pembina Upacara.

Namun ternyata fakta di lapangan berbicara lain, kebanyakan peserta upacara justru tidak melakukan hal ini dengan benar. Di Yahoo Answer misalnya dinyatakan sebagai jawaban terbaik untuk pertanyaan ini adalah ngelamun. Sementara di Kaskus, karena tidak ada jawaban terbaik, disebutkan rata-rata seperti: lihat ke bawah, lihat sepatu, ngantuk, merem, ngejahilin teman, dan sebagainya. Aktivitas-aktivitas di atas juga sering saya temui, bahkan itulah yang paling lazim terjadi. Tentunya, maksud baik dari aktivitas mengheningkan cipta ini menjadi rusak dan tidak produktif.

Melihat kenyataan ini, tentunya aktivitas ini menjadi sesuatu yang naïf. Sebab, mengenang jasa pahlawan bukanlah dengan sekadar diam mendengarkan instrument atau lagu selama kurang lebih 4 menit, tetapi mengenang mereka justru diharapkan dilakukan dengan tindakan nyata, yaitu dengan memajukan kehidupan bangsa, bertindak professional di segala bidang, dan sebagainya. Sebab, mereka dahulu berjuang demi bangsa ini bukan karena ingin dikenang selama 4 menit setiap Senin atau pada peringatan hari besar lain. Maka, semangatnyalah yang perlu kita contoh, bukan dengan mengalokasikan waktu selama 4 menit dan setelah itu lupa, tetapi selama 24 jam dalam setiap aktivitas kita.

Namun, satu pertanyaan tersisa di benak saya adalah, sebenarnya apa yang seharusnya dilakukan kala mengheningkan cipta? Apakah ini relevan untuk dilakukan?

Farikhsaba

B-210511

Categories: catatan sore Tags:

Jangan Biarkan Imanmu Merapuh

May 11, 2011 2 comments

Oleh Farid Ikhsan Asbani

Saudaraku, suatu ketika dalam episode hidup ini, mungkin kita sampai pada momen yang membuat kita begitu terpuruk, sangat susah untuk bangkit. Sebuah kondisi di mana masalah mendera bertubi-tubi, tanpa jeda, tanpa ampun. Tak terlihat celah sedikitpun untuk membebaskan diri dari permasalahan-permasalahan itu.

Suatu ketika, mungkin, kita pernah mengalaminya. Dan pada saat itu, masalah-masalah yang mendera begitu berkuasa menghancurkan idealisme kita, menghancurkan harapan kita satu-satunya: asa. Kita sempurna terkena sindrom patah arang. Sebuah sindrom yang amat berbahaya bagi makhluk hidup bernama manusia.

Suatu ketika, mungkin ini nyata, banyak di antara kita mengalaminya. Kita sudah lelah, tak kuat lagi bertahan meski sejenak. Seolah kita tak pernah belajar untuk optimis, bahkan lupa sama sekali atau mulai menganggap bahwa optimisme sekadar hal basi yang sama sekali tidak ada gunanya. Kita hidup tapi tanpa asa, beraktivitas tapi tanpa ruh, menjadi semacam robot yang melakukan semuanya secara mekanik tanpa makna.

Namun sadarkah kita bahwa rapuh sejatinya tidaklah datang secara tiba-tiba. Ibarat sebuah bangunan, ia takkan ambruk begitu saja. Tetapi rapuh adalah proses yang terjadi secara halus dan terus menerus. Ketika beban yang dipikul oleh bangunan itu sudah tidak mampu lagi dipertahankan, maka bangunan itu akan roboh. Boleh jadi, bagi yang tidak tahu, bangunan itu terlihat roboh secara tiba-tiba, tetapi sejatinya, bangunan itu sudah mulai roboh sejak awal pengeroposan dimulai. Ketiadaan perawatan dan perbaikanlah yang membuatnya roboh.

Begitu pula, seseorang tidak mungkin tiba-tiba mengalami stres, tetapi hal itu terjadi secara pelan-pelan dan kian bertambah seiring bertambah lemahnya pondasi pertahanannya. Ketika permasalahan semakin menderanya bertubi-tubi, sementara pondasinya kian rapuh, maka stres tinggal menunggu waktu. Rapuh, sejatinya terjadi secara perlahan, sedikit demi sedikit. Yang diserang adalah pondasi utama, pondasi dari segala pondasi kita hidup di dunia ini. Pondasi yang mendasari segala tindakan kita. Pondasi yang dengannya kita memandang dunia, menghadapi kencangnya angin hidup dan guyuran badai cobaan. Ya, pondasi itu adalah iman.

Ketika iman mulai keropos, jika ia tidak segera mendapat perawatan atau perbaikan, maka jatuhnya pondasi hidup seseorang tinggalah menunggu waktu. Ia akan lebih rentan tertekan dan terkena depresi ketika menghadapi persoalan hidup. Ia boleh terlihat kaya raya, rupawan, tersohor, tapi tanpa iman ia rapuh. Serapuh sarang laba-laba yang putus sekali hempas. Ibarat pohon, ia adalah pohon yang tak mampu bertahan meski oleh tiupan angin yang tak terlalu kencang.

Maka iman, mau tidak mau, harus dirawat, dijaga dan dijauhkan dari berbagai hal yang merusaknya. Jagalah iman, dengan menambah pengetahuan kita tentang-Nya. Jagalah iman dengan senantiasa memikirkan ciptaan dan ayat-ayat-Nya yang dihamparkan pada kita. Jagalah iman dengan memperbanyak amal kepada-Nya dengan cara-cara yang dituntunkan-Nya. Jagalah iman, dengan berkumpul dengan orang-orang yang dicintai-Nya. Jagalah iman dengan berbagai cara yang sering bisa bisa kita lakukan tetapi kita abaikan.

Karena sejatinya, masalah adalah pewarna kehidupan, membuat hidup lebih dinamis, lebih menarik, tentunya dengan pengelolaan yang benar. Masalah adalah wahana bagi Sang Khalik untuk menaikkan derajat hamba-Nya yang bertakwa. Lihatlah pohon alpukat, sesekali waktu sebelum musim buah, dedaunnya habis dimakan ulat. Boleh jadi, habisnya daun itu adalah masalah tersendiri bagi sang pohon. Proses fotosintesis dan produksi zat-zat makanannya boleh jadi terganggu, tetapi ia tidak mati. Namun, perhatikanlah beberapa waktu setelahnya. Pohon alpukat akan kembali menumbuhkan daunnya, dan bahkan mengeluarkan buahnya. Ulat-ulat itu hanya berfungsi memberikan shock terapi berupa stres ringan, yang akibatnya justru positif, yaitu memicu peningkatan produksi buah.

Maka begitulah bagi orang yang beriman. Masalah adalah pemicu bagi dirinya untuk semakin produktif dan meningkatkan kapasitas. Karena ia yakin sepenuhnya pada janji Allah bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Q.s. al-Baqarah [2]: 286).

Maka jangan lupa untuk senantiasa berdoa:

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir” (Q.s. al-Baqarah [2]: 286).

Wallahu a’lam

Artikel ini telah dimuat di www.fimadani.com

Categories: Oase
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 31 other followers